Titik Akhir Rute Jogging Baruku

Hampir setiap sore aku jogging untuk menjaga tubuh tetap fit. Aku menggunakan aplikasi di smartphone untuk menentukan rute dan jarak tempuh yang akan diambil. Beberapa sempat mengganti rute karena terlalu dekat, terlalu jauh, menerobos jalanan sempit, sampai akhirnya aku menemukan rute yang cocok sejauh 7 kilometer. 

Rutenya melewati komplek pertokoan dan pemakaman umum, di tengah-tengah perjalanan terdapat kantor kelurahan dan persawahan di tepi jalan dan selanjutnya kawasan pertokoan lagi sampai kembali ke tempatku. 

Aku memulai jogging pukul 4 sore dan berakhir saat matahari terbenam. Aku suka menikmati momen sunset karena itu menenangkan. Sore itu, saat lewat kantor kelurahan, kulihat ada bapak-bapak sedang mencari-cari sesuatu di dekat sawah di seberang jalan. 

"Mas, bisa bantu sebentar?" Bapak itu memanggilku dengan logat Jawa yang kental.

Aku menyeberang jalan, bertanya apa yang bisa kubantu. Ternyata ia ingin mengambil anak kucingnya yang berada di saluran air antara jalan dan sawah. Mungkin karena saluran itu tidak muat untuk tubuh bapak itu turun, disamping juga agak dalam, makanya ia meminta bantuan. Untung saja bukan musim hujan, jadi di dalam hanya ada daun-daun kering dan anak kucing berwarna putih mengeong minta bantuan. Aku ambil kucing imut itu dan kuserahkan ke bapaknya. Dia berterima kasih dan aku melanjutkan aktivitasku. 

Beberapa hari setelah kejadian itu aku mendapati kucing putih itu berada di depan kantor kelurahan. Tak jauh dari sana, si bapak sedang menyapu daun-daun kering. Ternyata rumah bapaknya persis di samping kelurahan. Rumah cat cokelat muda dengan halaman berumput di depan dan samping rumahnya. Terdapat pohon turi dan mangga yang sudah berbuah. Jadi daun-daun turi itu selalu memenuhi halaman dan harus dibersihkan. 

"Pak, kucingnya di sana," sapaku sambil menunjuk ke belakang, ke arah kantor kelurahan. 

"Iya mas," jawab bapaknya, "mampir mas, sini," lanjutnya.

Aku berhenti. Bapaknya masih mengumpulkan daun-daun kering dengan sapu lidi. Ia mengenakan sarung hitam dengan atasan kaos putih lengan pendek tipis. Jelas sudah berumur, namun ia masih terlihat sehat dengan geraknya yang masih cepat dan sigap.

"Suka jogging mas?" tanyanya basa-basi.

"Iya, pak," jawabku.

"Rumah dekat sini ya?" Tanyanya lagi. Aku jawab rumahku sekitar 3 kilometer dari ini. 

"Wah, jauhnya," katanya. Dia meletakkan sapunya di bawah pohon mangga. Badannya besar, namun tidak atletis, perutnya terlihat buncit, lengan dan dadanya kendur layaknya pria baya pada umumnya. Dengan kumis yang bisa dibilang cukup tebal, namun tidak hitam lagi karena sudah bercampur rambut putih. Keringat terlihat mulai menghiasi wajah dan lehernya. 

Aku mulai membayangkan apa yang terdapat di balik sarung hitamnya itu. Reflek aku membenarkan posisi di balik celana dalamku karena mulai memberontak. Ditambah sore itu panas sekali jadi tambah gerah, biar pun aku pakai kaos olahraga tanpa lengan pun masih saja keringat menetes. 

Kulihat si bapak memperhatikan saat itu reflek memasukkan tanganku ke balik celana training pendek yang kupakai. 

"Panas banget hari ini, mas," katanya. 

"Iya. Tapi semangat aja pak, masih setengah jalan lagi," jawabku sambil mengusap keringat di leher.

"Mas mampir dulu. Nggak bawa air minum toh? Saya ambilkan minum. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih sudah bantu ambil Seno kemarin," balasnya. Oh ternyata kucing itu namanya Seno.

Sebenarnya aku mau lanjut jogging saja karena sudah biasa, toh kalau haus tinggal beli air aja di warung. Namun akan tidak sopan jika menolak. Dia mengajakku ke teras yang berada di samping rumah. Ada meja dan 2 kursi kayu di antaranya. Tak lama kemudian datang Seno dari halaman depan. 

Aku berjalan melihat-lihat sekitar. Ternyata di belakang rumah itu masih ada halaman yang cukup luas. Ada pohon mangga juga. Seperti bapak ini juragan mangga, pikirku iseng. Tak jauh dari pohin mangga, ada deretan polibag tempat sayuran ditanam, dan kamar mandi tanpa atap yang terhubung dengan sumur yang tertutup balok kayu, menyisakan pompa dan pipa saluran air yang mengarah ke dalam bilik mandi. 

"Mas, sini loh," tak lama ia kembali dengan minuman dingin dan mangga yang sudah dipotong-potong. Aku kembali ke teras dan duduk di sana, menikmati mangga.

"Manis banget, pak." 

"Manalagi iki," jawabnya.

"Kalau capek nanti mampir sini saja. Nggak papa."

"Bapak tinggal sama siapa di sini?" Tanyaku.

"Berdua. Saya sama Seno. Anak 4 tapi wes keluarga kabeh. Cucu 3," ia menjelaskan. Aku tidak mau menanyakan di mana istrinya karena takut ia tersinggung atau gimana. 

"Nama sampean siapa?" Tanyanya. Aku menyebutkan namaku. 

"Oh iyo. Aku Pak Irwan," balasnya. Sejenak hening. "Monggo mas dihabiskan," tawarnya. Ia berdiri dan melepas kaos putihnya, kemudian mengusap-usapkannya ke tubuhnya. 

Terlihat perutnya yang menonjol, dadanya yang kendur, dan rambut-rambut di sepanjang lengannya menjadi pemandangan tersendiri sore itu. Lipatan sarung di bawah perutnya menampakan garis yang menjadi batas daerah pribadinya. Celanaku mulai sesak. 

Dia berkacak pinggang. Mungkin karena gerah, jadi supaya angin bisa mengeringkan daerah ketiaknya yang ternyata masih rimbun. 

"Umur berapa pak?" Aku memberanikan diri bertanya.

"56, mas," jawabnya, "wes tuwo mas". Tiba-tiba Seno berlari ke halaman belakang. Rupanya ia mengejar kadal yang menghindarinya ke arah pohon mangga belakang. Seno memanjat pohon itu, mungkin karena kucing suka bermain-main, seperti halnya ia mengejar katak, kecoak atau cicak untuk dijadikan mainan. 

Pak Irwan mengikutinya. "Seno, mudhun mudhun wes sore ayo mulih," Pak Irwan mengulurkan tangannya ke atas. Aku yang berada di sampingnya bisa melihat bentuk tubuh bapak ini, dada yang kendur, putingnya yang masih ditumbuhi rambut dan ketiaknya yang rimbun. Perutnya yang buncit berakhir dengan lipatan sarung yang terlalu ke bawah seakan-akan gerakan sedikit saja akan menyingkap apa yang dibalutnya. 

Ternyata Seno memanjat cukup tinggi sampai ia takut untuk turun. Akhirnya aku memanjat dan mengambilnya. Aku menyerahkannya ke Pak Irwan. Ketika dia mengambil Seno dariku tak sengaja lengan kami bersentuhan. Pak Irwan semakin mendekatkan tangannya memegang Seno sehingga lenganku menyentuh dadanya yang berkeringat. Ia seakan tidak mengindahkan, tapi juga masih mengapit lenganku dengan lengannya yang menggendong Seno, sambil bergerak hingga lengaku menggesek-gesek ke tubuhnya. 

"Pak, tangan saya," aku mencoba menarik dan telapak tanganku menyentuh bagian putingnya. Aku sedikit memelankan tarikanku untuk bisa merasakan lebih lama tubuhnya. Pak Irwan masih memegang Seno tapi tiba-tiba ia memegang tangaku yang menyentuh dadanya, menggerakkan tangaku untuk menekan dan meremasnya. 

Seno kabur dari dekapan Pak Irwan, tapi justru aku sekarang yang masuk ke dalamnya. Aku masih memegangnya. Dia menoleh ke belakang, cek kondisi sekitar. Tidak ada orang di situ karena memang ia tinggal sendiri. Setelah itu ia ke bawah pohon mangga tadi. Aku mengikutinya. 

Seperti lampu hijau, aku langsung menghisap dada Pak Irwan. Ia meraba-raba kaosku dan bergerak turun ke celana trainingku, menggapai apa yang mengeras sejak tadi. Aku menyelipkan tangaku ke dalam lipatan sarung dan merasakan lebatnya di dalam sana, sesuatu yang besar mengeras meskipun pendek. 

Ia memintaku membuka kaos dan celanaku. Sekarang aku hanya memakai sepatu kets. Pak Irwan menciumi leher dan dadaku. Kumisnya yang kaku membuat sensasi geli dan menggairahkan. Hasratku menguat dan ku bisa rasakan milikku mengacung ke atas. Pak Irwan memberikan kehangatan di mulutnya, menghisapnya. Ia terus bergerak turun dan berhenti di lipatan antara kedua kakiku. 

Karena kurang nyaman, aku membungkuk ke arah pohon mangga sambil memegang batang pohon. Ia menjelajahi bagian tersembunyiku dengan lidahnya. Nikmat sekali. 

Setelah itu aku berdiri dan mengangkat sarungnya, memegangnya, menarik ulur dan meremasnya. Pak Irwan memejamkann matanya, dan kumisnya semakin membuat gairah membuncah. Aku berlutut dan memberinya kehangatan dalam mulutku. Aroma lelaki merebak, sangat mengundang.

"Ah...enak mas." desahnya dengan logat Jawa. Seksi sekali.

Ia membuka lipatan sarungnya, aku berdiri dan kita berdua sekarang terbalut sarung hitam Pak Irwan, dijepit punggung Pak Irwan yang bersandar di pohon mangga. Ia memelukku, menggesekkan kumis dan janggut tipisnya dan menggesekkan miliknya dengan milikku. Rambut tebalnya menambah kenikmatan, dan cairan yang sedikit keluar membantu melicinkan. 

"Mas, bentar lagi kayaknya," Pak Irwan merem dan mengernyitkan dahinya, begitu menikmati. 

"Ayo, Pak. Bentar lagi...," aku menggebu, menekan tubuh Pak Irwan. Perut buncitnya sedikit menyulitkanku, namun kami tetap saling menggesek, sesekali aku menghisap dadanya, membuatnya melenguh. 

Tak tertahankan lagi, kehangatan menyembur darinya, dan aku memacu gerakanku yang terbantu oleh licinnya cairan yang baru saja keluar. Kutatap kumis Pak Irwan, aku benar-benar bergairah. Sesaat kemudian, siraman kehangatan memancar dariku. Lelehan-lelehan mulai bergerak turun ke kaki kami berdua. 

Kami langsung menuju kamar mandi dekat pohon mangga untuk membersihkan diri. 

"Terima kasih, Pak Irwan," ucapku saat di kamar mandi. 

"Saya yang harusnya berterima kasih ke sampean, mas," jawabnya. "Nanti mampir lagi ya," pintanya. Aku tersenyum, dengan senang hati aku akan mampir lagi, saling memuaskan dengan pria tua yang kumisnya menggoda ini. Sepertinya ini akan menjadi titik akhir rute jogging baruku.

Matahari sudah tenggelam, menjelang Maghrib saat aku menunggu jemputan ojek online di depan kantor kelurahan. Aku lihat Seno berjalan pulang.

"Dari mana aja?" Aku membungkuk mengelusnya sebentar. Mungkin ia mengerti istilah privasi, pikirku. Ternyata kucing ini tahu sopan santun. 








Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram