Persimpangan Hati (Part 1)
"Baru pulang?"
"Oh!" sontak Dani kaget karena tiba-tiba ada suara pada jam 10 malam ketika penghuni kos lainnya entah berada di mana.
"Sorry," Satya merasa tidak enak karena hampir membuatnya kena serangan jantung.
"No. It's okay. Nggak keluar?" tanya Dani
Satya cuma tersenyum, dan itu sudah cukup membuat Dani benar-benar kena serangan jantung di tempat. Senyuman yang bisa menenangkan hati yang gundah, senyuman yang menjadi sinar harapan di tengah badai, senyuman yang membuat orang merasa baru gajian di akhir bulan, senyuman yang bisa menjinakkan hewan terbuas di Padang Srengeti sekalipun.
"Okay, otakku mulai kacau," gumam Dani dalam hati. "Entah kenapa kunci keparat ini nggak bisa masuk. Sialan." Ingin sekali dia mengumpat seperti itu tapi jelaslah tidak bisa karena dia tidak mau merusak suasana apalagi senyum Satya.
Dani mulai gugup. Satya melihatnya dengan tatapan tanda tanya. Dani membalas dengan senyum selebar mungkin sambil berusaha memasukkan kunci seperti memasukkan gajah ke lubang kelinci.
"No. It's okay." Kilah Dani. Hampir saja ia jatuh karena ternyata ia mendorong pintu terlalu kuat ketika tiba-tiba bisa dibuka. Dia hampir tersungkur ke lantai kamar tapi ia berhasil berdiri dan stabil. Karena semua terjadi begitu cepat sehingga Satya hanya bisa melihat semuanya masih dengan tatapan tanda tanya.
"It's okay," ucapnya sekali lagi, mencoba meyakinkan Satya.
"Aku tidur duluan," Satya membalas sambil senyum. Ia pun berbalik menuju kamarnya yang berada di depan kamar Dani.
Satu penghuni kos sedang mengalami serangan jantung malam itu karena senyuman. Tentunya ini hanya dramatisir.