Persimpangan Hati (Part 7)
Beberapa hari itu seperti surga buat Satya karena bisa menghabiskan waktunya dengan Dani. Setiap malam mereka menghabiskan waktu bercumbu, menyatukan gairah. Dari situ mereka memiliki waktu untuk berbicara lebih personal tentang hubungan mereka, apalagi Satya yang sudah punya pacar Olin.
"Apa bakal kayak gini terus ntar?" Tanya Dani. Mereka berdua baru selesai memadu kasih, ia telentang di sebelah Satya dengan selimut menutupi bagian bawah mereka.
"Nggak, Dan. Aku yakin kita bisa berdua aja nanti. Jangan nyerah sama aku ya, buddy," Satya melingkarkan tangannya, mendekatkan kepala Dani ke bahunya, mencium dahinya.
"Kalaupun nanti kamu nggak percaya pas di tengah jalan, aku bakal terus berjuang biar bisa sama kamu, Dan," lanjutnya. "Aku sayang kamu. Sayang banget sama kamu." Ia senang mendengar kalimat itu dari mulut Satya.
Tangan Dani membelai tubuh Satya, dan berhenti di dada kirinya. Jemarinya mengikuti bekas luka di bawah puting. Ia menanyakan kenapa ada luka di sana.
"Beberapa bulan sebelum kenal dengan seseorang yang sekarang sedang aku peluk," Satya memulai bercerita tentang lukanya sambil sedikit gombal. Ia menceritakan bahwa luka itu ia dapat saat mendekor ulang kamarnya, ketika ia mencoba memasukkan meja kecil ia tidak menyadari sisi mejanya paku kecil dan akhirnya menyayat dadanya.
"Kok bisa ada paku di sana?" Dani heran.
"Aku tanya ke mejanya dulu ya," candanya masih memeluk Dani dengan penuh sayang. Dani bangun dan mencium bekas luka itu.
"Kalo gini masih terasa sakit?" Satya tahu itu konyol, Dani hanya menggodanya. Tapi ia berusaha meladeninya
"Aw sakit," ia mendramatisir, "agak naik sedikit, nah di situ, mendingan," ia menikmati kecupan Dani di putingnya.
"Buddy," Satya membuka lengannya, "lagi yuk," ia tahu ketiak adalah favoritnya Dani. Mereka memulainya lagi, bercumbu, berlatar musik pelan namun romantis, tak peduli dengan apa di sekitarnya. Bahkan ketika ada seseorang di luar kamar sekalipun.
***
Aji membawakan salad buah dan sate untuk Dani. Mungkin bukan kombinasi yang bagus, tapi mereka berdua tahu kalau saté ayam itu juara. Tak lupa ia membeli minuman botol. Sepanjang pekan mereka terus berkutat dengan event sampai jarang bertemu, bahkan sehabis pulang kerja. Ia membawakannya sekalian memastikan kondisi temannya itu selalu fit.
Namun saat tiba di kosan Dani, kamarnya gelap. Ia melihat kamar Satya yang juga gelap. Apa mereka berdua sedang keluar? Tanya Aji dalam hati. Ditaruhnya bingkisan itu di atas meja di depan kamar Dani ketika perlahan ia mendengar alunan musik dari dalam kamar. Ia hendak memanggil Dani sebelum akhirnya mendengar suara desahan seseorang dari dalam. Suara Satya. Ia pergi meninggalkan tempat itu dengan amarah dan sakit hati.
Dani terkejut saat keesokan harinya ia menemukan bingkisan di atas meja. Ia tahu ini dari Aji dan ia khawatir Aji mengetahui hubungannya dengan Satya. Namun Satya justru santai, tidak khawatir, karena ia beranggapan kalau Aji mengetahui hubungan mereka berdua maka ia tidak akan mendekati Dani seperti biasanya, tapi ia menyimpan anggapannya itu dalam kepalanya.
Terjadi sedikit perdebatan saat makan siang antara Dani dan Aji. Ia sangat kecewa kenapa Dani tidak menceritakan hal itu padanya, bilang bahwa ada Olin yang sekarang bersama Satya. Namun, sebenarnya ia juga marah karena perasaan cemburu melihat mereka berdua. Perasaannya kepada Dani yang ia jaga baik-baik seakan tidak memberikan hasil yang ia harapkan. Ia marah kenapa tidak memberanikan diri mengutarakannya kepada kawannya itu.
Untungnya Aji lebih bijak dari yang terlihat. Sebanyak apapun masukan yang ia berikan untuk Dani, semuanya tetap urusan pribadi masing-masing. Dan ia berusaha menerima kenyataan pahit itu.
***
Hari itu benar-benar melelahkan. Ia tiba di kos dengan lunglai. Ia menuju kamar Satya yang pintunya setengah terbuka, ingin sekali memeluknya, melepaskan penat dan menghirup aroma lelakinya yang menenangkan. Namun niatan itu lenyap ketika ia melihat Satya dan Olin berciuman di balik pintu.
Ia perlahan-lahan balik badan dan membuka pintu kamarnya, namun karena emosinya masih terpicu oleh rasa cemburu, ia kehilangan kontrol dan menjatuhkan smartphone dan kunci kamarnya yang menciptakan suara seperti kencringan akibat benturan besi ke lantai.
Ia mengambil ponsel dan kunci dan membuka pintu kamarnya ketika Olin tiba-tiba menyapanya. Mungkin suara benda jatuh ini membuyarkan ciuman mereka.
"Apa kabar, Lin? Kapan dateng?" Tanyanya dengan santai. Entah kenapa Dani bisa bersikap seperti itu justru saat amarahnya sedang naik-naiknya.
"Tadi siang, Dan," ia sedikit bercerita tentang urusannya yang ternyata bisa selesai lebih cepat dari perkiraan.
"Syukurlah," jawabnya singkat, "aku istirahat dulu ya. Anyway, welcome back." Ia menutup percakapan singkatnya dengan Olin dan menutup pintu kamarnya. Satya tidak menampakkan batang hidungnya waktu itu.
***
Aji rebahan di kamarnya seorang diri. Masih terbawa rasa jengkel melihat Dani dan Satya. Merasa sakit membayangkan mereka berdua bercumbu. Ia ingin tahu bagaimana Satya memperlakukan Dani saat mereka bermanja berdua. Ia seakan tidak rela melihat itu semua.
Namun ia mulai membayangkan Dani seorang diri. Teringat saat mereka makan siang, makan malam, jalan-jalan inspeksi area tempat mereka bekerja, saat-saat di bukit malam itu. Ia membayangkan bagaimana jika ia menciumnya malam itu saat di bukit, pasti akan lain ceritanya. Mungkin ia akan bersama Dani, setidaknya bisa menciumnya dengan mesra meskipun tidak lebih dari itu.
Ia mulai membayangkan bagaimana jika hubungan mereka bisa lebih dari itu. Ia menciumnya malam itu dan semuanya berubah. Ia membayangkan wajah Dani dengan bibirnya yang mengundang, ingin sekali ia menciumnya dan menghirup aroma lehernya dari dekat. Ia ingin mendekap erat tubuhnya, merasakan sentuhannya.
Ia membayangkan bisa meraba dadanya yang berisi, mengecup putingnya, memainkannya dengan lidahnya. Bayangan-bayangan itu membuat celana pendeknya menonjol. Ia melepaskannya, juga kaos yang ia kenakan dan meraih minyak zaitun dengan aroma bunga dari meja samping tempat tidurnya.
Ia meneteskannya di telapak tangan dan mengoleskan ke miliknya. Ketegangan terlihat di bawah sana. Dengan pangkal yang tercukur membuatnya terlihat gagah dan tegak. Dengan mata sedikit terpejam, ia mengoleskan minyak zaitun ke perut dan dada bidangnya. Terlihat putingnya yang lebar diserati rambut-rambut halus bergerak naik turun karena nafas yang mulai menggebu. Dipilinnya kedua puting sambil membayangkan Dani. Terlihat miliknya masih berdiri tagak, besar dan keras, seakan siap menghadapi apapun di depannya, dan siap memuntahkan kehangatan yang tak terhingga.
Aji menggenggamnya, menarik dan mendorongnya, ke atas ke bawah dengan pelan, sambil menggerakkan pinggangnya dan masih memilin salah satu putingnya. Ia membayangkan Dani duduk di atasnya, dan berbagi kehangatan. Ia membayangkan badan Dani yang berkeringat bergerak naik-turun di atas perutnya, menyatukan hasrat mereka, dan keringat menetes dari leher lengan dan dadanya yang menggairahkan.
Ia kembali meneteskan minyak zaitun ke tubuhnya, mengoleskannya, memainkan tangan dan miliknya, hanyut dalam permainan solo di tengah kesepian yang mencoba mengurung gairahnya.
***
Setelah Olin pulang, ia ke kamar Dani. Namun pintunya tertutup dan tidak ada cahaya lampu dari dalamnya. Ia tahu Dani di sana dan ia ingin sekali menemuinya. Ia mengetuk pintu, memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Ia duduk di depan kamar Dani, menunggunya membukakan pintu.
Ingin sekali ia bilang dari luar sana dengan suara keras agar terdengar sampai kamar, bahwa ia berusaha untuk mereka berdua. Hanya mereka berdua. Namun dengan kondisi yang hampir tengah malam, akan mengganggu dan terdengar konyol dan melanggar norma. Dengan resah ia pun kembali ke kamarnya.