Persimpangan Hati (Part 3)
Semalaman Dani tidak bisa tidur karena perasaan marah dan cemburu dengan apa yang ia lihat tadi pagi. Ia hanya membolak-balikkan badan dengan perasaan jengkel, scrolling timeline di media sosial, membaca obrolan grup alumni SMA yang bahkan sebenarnya dia tidak pernah tertarik tapi ia tetap membacanya hanya sebagai sebuah pengalihan. Menjelang tengah malam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia tetap berkutat dengan smartphone-nya, tidak peduli apapun yang terjadi di luar sana.
Sebenarnya ia hanya ingin tidur karena besok ia harus menangani acara klien di hotel. Ia tidak mau bekerja dengan kondisi badan lesu dan mata merah seperti habis kena saus sambal. Terlebih lagi disebabkan oleh perasaan cemburu. Payah sekali, pikirnya. Malam itu benar-benar buruk.
"Ya nanti saya akan koordinasikan lagi Pak. Masih menunggu konfirmasi, cutoff date besok lusa," seseorang sedang berbicara melalui voice call.
"Okay. Iya," Dani masih bengong sementara orang itu larut dalam percakapan.
"Baik. Ditunggu konfirmasinya kalo gitu," ia mengakhiri voice call.
Entah kenapa Dani muak mendengar kata konfirmasi dan koordinasi. Mungkin karena ia sudah cukup lama bekerja dan kata-kata itu seakan-akan lebih berarti "iya, sabar, nanti dulu" dalam bentuk yang lebih advance.
"Kita makan di luar yuk," pria yang tadi ber-voice call tiba-tiba mengajaknya makan siang. Dan mereka pun berangkat.
Pria itu adalah Aji, teman kerja Dani namun di departemen yang berbeda. Mereka berdua cukup dekat, atau mungkin sangat dekat tanpa diketahui orang lain. Dalam hal urusan pekerjaan mereka memang harus saling koordinasi. Namun di antara kawan-kawan kerja lainnya, Aji lah yang paling dekat, karena ia lebih tenang dan bisa mendengarkan. Karena itulah Dani tidak jarang bercerita tentang kehidupannya, masalah-masalah yang dihadapi entah dalam lingkup pekerjaan atau ranah privat. Salah satunya juga tentang Satya.
"Dan, Dan. Gitu doang? Cemen lo," ledek Aji ketika tahu setelah Dani menceritakan hal itu.
"Nanti jangan begadang lagi. Jadi panda lo lama-lama," Aji semakin meledek si Dani. Namun itu sudah biasa, malah Dani pun akhirnya tertawa, biar hanya sebentar.
Setelah seharian akhirnya Dani tiba di kosannya menjelang magrib. Ada suara-suara dari arah kamar Satya. Rupanya mereka sedang berdua, perasaan itu berkecamuk lagi dalam hati Dani.
Mendengar ada suara orang buka pintu, Olin menengok keluar dari pintu kamar Satya dan menyapa Dani, "Baru pulang, nih pak bos?"
Dani menoleh, "Yaa...pak bos kerja bagai kuda nih Lin." Sambil melempar balik senyum ke Olin. Kadang Dani merasa jahat kalau merasa cemburu, karena ini bukan salah Satya atau Olin. Ini hanya dirinya saja terlalu terbawa perasaan.
"Okay, met istirahat!" Sambung Olin langsung kembali ke kamar. Suara mereka berdua terdengar sampai kamar Dani karena memang pintu tetap dibiarkan terbuka. Suara tawa Olin dan Satya, kadang mereka bernyanyi dengan diiringi petikan gitar Satya. Semua terdengar sangat romantis namun itu yang membuat Dani cemburu. Akhirnya ia memyumpalkan earphone dan memutar musik dari android-nya dan membaca salah satu buku koleksinya.
Satya sedang memainkan kord gitar Andra and the Backbone dengan Olin menyanyikan lagu ketika ada suara ketukan pintu di kamar depan. Olin menengok keluar dan menoleh lagi ke arah Satya, "Kayaknya ada teman Dani tuh lagi nyari. Tapi kok gak dibukain ya? Apa dia ketiduran?"
Satya menoleh keluar dan akhirnya menghampiri ke depan kamar Dani. Olin kembali ke kamar dan mencoba memainkan gitar dan suara genjrengan asal-asal pun segera terdengar.
Ternyata orang itu adalah Aji. Namun tentu saja Satya belum mengenalnya.
"Dani ada?" Tanya Aji ketika Satya menghampiri. Aji mengenakan kemeja flanel merah hitam dan jeans gelap yang membuatnya tampak gagah. Dan rambutnya selalu tercukur membuatnya terlihat tampan.
Satya pun mengetuk pintu kamar Dani sambil memanggil namanya. Wangi banget orang ini, batin Satya. Beberapa kali diketuk namun tidak ada respon, Satya mulai mengintip melalui jendela kaca dan mengetuk-ngetuknya.
Entah berapa lama ia teralihkan karena tidak sadar ada suara ketukan jendela yang seperti ada gempa. Ia beranjak membuka pintu dan mendapati Aji dan Satya di depan. Dani segera menyapa Aji, tidak langsung menyapa Satya karena memang ia sedang tidak ingin.
"Makan yuk. Nasi Padang tadi siang udah nggak ada efeknya lagi ke perut ni," ajak Aji.
Sekilas Dani menatap Satya yang masih berdiri di sana, mengenakan kaos polos abu-abu yang sedikit ketat, menampakkan lengan atasnya yang kencang.
"Tadi...gak ada jawaban jadi aku lihat jendelamu," Satya mencoba menjelaskan, tidak tahu kenapa tiba-tiba ia merasa canggung.
"Oh," jawab Dani sekaligus meminta Aji tunggu sebentar karena ia harus ambil dompet dan ganti baju sebentar, "gak sampe semenit. Ntar ya. Masuk aja mas gapapa."
Satya langsung menjawab, "Satya," sambil mengulurkan tangan ke Aji. Dan bersambutlah perkenalan mereka berdua. Satya mencoba mengajak ngobrol ringan hanya supaya Aji tetap berada di luar kamar.
"Ayo, udah nih," Dani memotong pembicaraan, dan mereka siap keluar untuk makan.
"Duluan, Sat," ucap Dani. Satya hanya tersenyum, namun ada makna berbeda dari senyumnya kali ini.
Ia pun kembali ke kamar dan mendapati Olin masih memainkan gitar dengan serampangan. Selama Dani pergi malam itu, Satya masih bertanya-tanya dengan kejadian barusan. Sikap Dani yang sedikit berbeda dan Aji yang tiba-tiba datang menemuinya dan mereka terlihat akrab. Itu sedikit aneh. Dan mengganggu.
"Am Em F Dm. Sulit banget jarinya gimana nih?" Olin mengeluh saat mencoba mencocokkan jari-jarinya ke senar guitar seperti di aplikasi kord di tablet. Satya masih diam, melihat iklan deterjen aroma mawar di televisi. Olin akhirnya menyerah malam itu dengan gitarnya dan pamit ke Satya.
"See you tomorrow," dan bibirnya mendarat di bibir Satya. Mereka berciuman selama beberapa detik.
"Love you," Satya mengakhiri ciuman itu.
"Love you," balas Olin dan ia pun pergi.
Satya melanjutkan menonton TV dengan pikiran ke mana-mana. Entah sudah berapa lama ia tertidur, saat hampir tengah malam ia mendengar suara di depan kamar. Itu Dani.
"Jangan lupa besok ya," bukan, itu suara Aji.
"Sip. Thanks mas," balas Dani. Dan Aji pun pergi.
Satya keluar kamar, Dani masih di depan pintu kamarnya, hendak masuk.
"Malem banget?" tanya Satya.
"Tadi ada tempat nongkrong baru, lumayan ada live akustiknya jadi betah," jawab Dani sambil bersiap-siap masuk.
"Aku baru tau kalo kamu deket sama dia," Satya terdengar sedikit kesal di nadanya.
Dani menoleh dan menjawab santai,"Kita teman kerja jadi ya cukup dekat. Kerja bareng tiap ada event. Ketemu hampir tiap hari."
Satya hanya diam, tapi masih ada perasaan mengganjal entah apa itu.
"Tidur dulu, Sat," Dani masuk meninggalkan Satya berdiri di depan kamar. Bayangan Dani dan Aji saat pergi tadi tiba-tiba melintas di benak Satya, membuat mood-nya jadi jelek. Sepertinya Satya tidak akan menyukai Aji, apalagi kalau dia menemui Dani di kosan lagi.