Persimpangan Hati (Part 2)

 Sudah tiga hari Satya tidak terlihat di kos. Dani penasaran ke mana dia sebenarnya. Apakah dia pindah kosan? Ia coba mengintip melalui bagian luar jendela kamar Satya. Namun barang-barangnya masih di sana. Ditambah sepatu kets putihnya masih ada di luar pintu kamarnya. Dani duduk dengan sepatu kets putih milik Satya ditangannya. 


Tidak terasa sudah hampir satu tahun mereka bertetangga. Meskipun tidak begitu akrab pada awalnya, namun beberapa minggu terakhir mereka mulai dekat. Seringkali Satya keluar kamar ketika mendengar ada suara orang membuka pintu di depan kamar kosnya. Ketika itu Dani, Satya hanya bertanya remeh-temeh seperti "Sudah pulang?", "Malam banget ni" dan lain-lain yang sekiranya hanya cukup dijawab dengan "Iya". 


Kesibukan masing-masing membuat mereka berdua jarang mendapatkan waktu untuk mengobrol secara lebih dekat. Dani bekerja di hotel, dan pastinya seringkali pulang larut, apalagi karena dia harus menghadapi permintaan para tamu dan klien dari beberapa perusahaan atau pemerintahan yang mengadakan acara di tempat ia bekerja. 


Sedangkan Satya bekerja di sebuah bank, dan lebih banyak waktu di malam hari setelah pulang kerja. Namun terkadang ia juga pergi ke gym sepulang kerja, dan pasti kelelahan setelah itu. 


Dani teringat awal mereka berdua kenal. Sore itu hujan deras saat Dani baru tiba di tempat kos barunya. Ia, dibantu dua orang temannya sibuk mengeluarkan barang-barang dari mobil. Satya sedang bermain gitar, saat ia melihat ada kesibukan di luar. 


"Ada yang bisa dikerjain?" Satya tiba-tiba muncul di depan kamar Dani. Kedua temannya sedang sibuk di kamar dan mulai unboxing barang-barang yang bahkan bukan milik mereka. Salah satu ritual pertemanan apalagi dalam hal pindah kosan. 


"Terima kasih. Um...tadi aku cek kamar mandi tapi wastafelnya tidak jalan airnya." jawab Dani sambil coba mengangkat kotak kardus yang berisi novel dan beberapa buku kesukaan. Nampaknya ia kesusahan karena walaupun kotaknya hanya sebesar karton mie instan tapi karena isinya buku jadi lumayan berat. 


"Sini," Satya tiba-tiba mengambil kotak kardus itu darinya. 


"Thanks," jawab Dani lega. Satya membawa kardus ke dalam kamar dan meletakkannya di sudut ruangan.


Mereka berempat mulai membersihkan lagi kamar kos itu meskipun sebelumnya sudah dibersihkan oleh pemilik kos. Sekitar setengah jam kedua teman Dani pamit pulang karena mereka harus siap-siap bekerja shift malam. Dan mengetahui kalau ada teman kos yang membantu juga membuat kerja mereka lebih ringan dan efisien. Setelah pamit, tinggal mereka berdua di kamar. 


"Satya," sambil mengulurkan tangan ke Dani, ia memulai perkenalan itu.


"Dani. Thanks Sat," Dani membalas uluran tangannya. Mereka berjabat tangan. 


Satya mengenakan celana boxer biru dan kaos tanpa lengan warna putih yang membuat lengan dan ketiaknya terlihat. Bulu-bulu lebat di ketiaknya seakan membuat Dani teralihkan dari hal-hal lain. Ditambah keringat yang menetes mulai leher sampai di sela-sela lengan dalamnya membuat kulit Satya semakin eksotis. Kulit Satya memang sedikit gelap. 


"Oh iya, tadi wastafelnya," Dani mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikiran aneh.


Mereka berdua pergi ke kamar mandi. Satya bilang bahwa biasanya ada mas-mas yang datang ke sini untuk cek apa-apa saja yang perlu diperbaiki. Namun minggu ini dia sedang sibuk karena ada acara pernikahan. Satya mencoba memutar penutup keran di saluran di bawah wastafel. Air pun mengalir. Namun Satya terbentur wastafel saat ia berada dibawahnya. 


"Aw!" refleknya. Ia perlahan berdiri sambil mengusap kepalanya. Terlihat rambut-rambut tebal menutupi ketiaknya saat ia mengangkat lengannya. Ketiaknya selebat hutan belantara yang bahkan Dani akan sangat senang untuk menjelajahi setiap incinya. 


"Sat, rambut dan tanganmu kok jadi putih?" tanya Dani melihat kepala Satya berubah putih saat habis diusap. Tentunya juga tidak melewatkan pemandangan ketiak dan puting dada menyelinap keluar. 


"Sial. Ini cat, Dan. Haha." Satya kesal namun juga masih bisa tertawa. Ternyata bagian tembok dan bawah wastafel sengaja dicat namun masih belum kering.Dani mengambil kain dan mengulurkannya. Namun Satya malah mengusap-usapkan tangan penuh catnya ke kaosnya sendiri. Setelah itu, ia melepas kaosnya sambil mengusapkannya ke tangan. 


Terlihat badan Satya yang cukup berisi, kencang, namun tidak berotot, terlihat dari perutnya yang tidak kotak-kotak. Namun di sekitar putingnya tumbuh rambut-rambut halus dan bebeapa ada yang sedikit panjang, menutupi puting berwarna cokelat gelap itu. Ada bekas luka goresan di bawah puting kirinya yang memberi kesan lebih maskulin.


"Nggak usah. Pake kaos ini aja. Buat kenang-kenangan awal kita kenalan." jawabnya santai.


"Okay. Aku balik kamar mau mandi. Ada yang lain?" tanyanya ke Dani. 


"Nanti kalo ada aku panggil lagi Thanks banget, Sat." Dani berterimakasih karena bantuan di hari pertamanya di kosan dan disambut dengan hangat. 


Malam itu Dani membayangkan tubuh Satya ketika ia berada di kamar mandi, dan menuntaskannya dalam waktu yang cukup lama dalam fantasi gairah.


"Halo...mister...," suara itu terdengar dan perlahan-lahan membuyarkan lamunan Dani yang duduk di depan kamar Satya. Dilihatnya Satya di depannya. Dani menjatuhkan sepatu kets dari pegangannya. 


"Belum jam sepuluh dah ngelamun aja," canda Satya. Namun ternyata ia tak sendiri. Ada teman ceweknya di sampingnya. 


"Dari mana aja Sat? Lama gak kelihatan," jawab Dani sambil berdiri. Ternyata Satya baru ada kegiatan outbound kantor di kawasan pantai. 


Namun Dani masih belum mengerti dengan teman ceweknya yang ikut ke kos, karena hampir tidak pernah ia melihat Satya membawa teman ceweknya ke kos selama ini. 


Sampai akhirnya Satya bilang,"Dan. Kenalin. Ini Olin. Olin ini Dani."


Mereka bersalaman, berkenalan. Saling lempar senyum ramah. Olin sepertinya cewek yang baik dan ramah, pikir Dani. Mereka berdua terlihat begitu akrab.


"Dia aku ajak ke sini biar tahu ke mana kalau mau cari pacarnya ntar," lanjut Satya. 


Dani kaget dengan fakta itu. Seketika rasa rindu, kesal, marah dan kecewa bercampur. Namun, ia bisa bersikap santai seakan tidak merasakan apa-apa. 


"Wah, selamat, Sat. Nggak jomblo lagi akhirnya. Haha," Dani menimpalinya dengan santai. Dengan gaya sesantai dan sewajar mungkin.


"Thanks, Dan!" jawab Satya sambil senyum. 

Dani pun pamit menuju ke kamarnya. Namun tiba-tiba Satya memanggilnya, dan ia memberikan kalung manik-manik dari kerang yang mengkilap. 


"Oleh-oleh dari pantai.Moga kamu suka. Thanks, Dan!" sambil menepuk pundak Dani, Satya pun berbalik ke kamarnya.


"Thanks, Sat." Dani berlalu menuju kamarnya. Ia seperti berjalan menuju ruangan yang penuh siksaan perasaan, lambat-lambat ia berjalan ke arah kamarnya yang bahkan bisa dijangkau dalam enam atau tujuh langkah saja. 


Sambil ia melihat kalung yang tersusun dari kerang indah itu, ia menahan segala luapan emosi, setidaknya sampai ia sampai di kamar dan pintu kamar tertutup. 

Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram