Proyek Taman Rumah Abram
Setelah sekian tahun menabung, akhirnya Abram bisa membeli rumah ini. Meskipun bukan di kawasan perumahan berkelas, namun cukup nyaman. Lokasinya berada di luar pusat kota, di mana masih ada kelebihan tanah yang bisa dibangun sendiri oleh pembeli. Ia telah memagar sekeliling rumah, namun masih ada satu-dua bagian rumah yang harus diperbaiki.
Ia ingin membuat taman dengan jalan setapak di samping rumah. Setelah mencari referensi desain di internet, ia pun mencari tukang bangunan yang bisa mengerjakannya. Ia menemukan di akun media sosial yang menyediakan jasa tukang bangunan. Setelah sepakat, si tukang datang dan mereka berdiskusi tentang proyek kecil tersebut.
"Kira-kira kayak gini, Pak," Abram menunjukkan gambar desain ke pak tukang. Sejenak pria paruh baya itu mengamati gambar desain dan memaparkan sarannya kepada Abram.
"Bisa bisa. Tapi harus sedikit bongkar yang di pojok. Sedikit saja. Untuk pijakan-pijakannya tidak masalah."
Akhirnya mereka sepakat untuk memulai proyek itu esok harinya, karena bahan-bahan juga sudah tersedia. Pekerjaan diperkirakan maksimal selesai dalam waktu tiga hari.
Abram tinggal seorang diri karena memang belum menikah, namun ia patut bangga sudah bisa mandiri. Dan rumah ini memang apa yang sudah diimpikannya sejak lama.
Keesokan harinya pak tukang datang pukul 7 pagi, dan mulai mengerjakan proyek itu. Tak lupa Abram sebelumnya Abram menyediakan kopi hangat dan sarapan kepada pak tukang yang dibelinya di pasar dekat rumah.
Selesai sarapan, sementara di luar sedang ada proyek, Abram menonton televisi sebelum akhirnya beranjak mandi. Ia menanggalkan pakaian dan terbalut handuk ia menuju kamar mandi.
Kamar mandi berada di bagian belakang dengan konsep terbuka. Jadi tak beratap, hanya tembok setinggi dada yang membatasi dan shower yang terlihat menjulang dengan pancuran kecil-kecil air, dengan lantai warna batu, dan tanpa pintu. Abram suka sekali konsep seperti itu karena masih jarang sekali yang mempunyai konsep kamar mandi seperti itu.
Pak tengah mengerjakan taman ketika ia melihat Abram menuju kamar mandi. Ia baru tahu kalau kamar mandinya memiliki konsep tidak biasa menurutnya. Dan karena dari tempat ia bekerja bisa melihat pancuran, otomatis terlihat juga orang yang sedang mandi di sana.
Ia bisa melihat Abram membasuh badannya yang berisi dipenuhi warna putih busa sabun dan sampo. Sedikit terlihat lebatnya ketiak Abram saat ia mengangkat kedua tangannya untuk membersihkan rambut dan mukanya. Kumis dan jenggot yang masih halus menghiasi wajah tampan Abram, dan bilasan air dari shower membasahi kulitnya yang eksotis. Si tukang diam-diam mengamati Abram dari kejauhan sambil sesekali menelan ludah, tanda bahwa ia menikmati apa yang dilihatnya.
Saat Abram keluar dari kamar mandi, pak tukang mendekat dan berkata bahwa ia baru tahu kalau ruangan itu adalah kamar mandi. Abram merasa tidak enak karena seharusnya ia memberitahu pak tukang terlebih dahulu. Berharap pak tukang bisa memaklumi nya, karena memang jarang sekali ada kamar mandi seperti iti di rumah-rumah kebanyakan. Pak tukang ternyata tidak keberatan. Syukurlah, batin Abram.
Setelah selesai, dilihatnya pak tukang sedang mencuci muka dan membersihkan badan di keran di dekat kamar mandi. Pak tukang itu berumur sekitar 40-an tahun, badannya terbentuk meskipun cenderung lean namun bagus, khas tukang bangunan. Mungkin karena faktor pekerjaan yang mengharuskannya mengangkat benda berat. Putingnya terlihat menonjol, dan perutnya kencang. Terlihat celananya yang terlalu turun seakan hendak memperlihatkan bagian pribadinya, namun terlihat mulus tidak ada rambut.
Pak tukang kaget melihat Abram mengamatinya.
"Maaf pak, jadi kaget bapaknya," ujar Abram. Pak tukang pun berpamitan.
Pak tukang menyalakan mesin motornya dan meninggalkan rumah Abram. Belum jauh, ia teringat rokoknya yang tertinggal jadi ia kembali. Saat ia hendak mengambil rokoknya, ia melihat Abram berdiri dengan sedikit membuka kaos yang ia kenakan. Terlihat ia memilin puting dadanya dan menggerakkan miliknya yang tertutup busa sabun. Pak tukang mencoba untuk tidak terdengar langkahnya dan tetap memperhatikan Abram dan ia berlalu.
Keesokan harinya pak tukang kembali bekerja tapi hari itu ia tidak mengenakan celana dalam, karena akan tidak nyaman ketika tegang saat bekerja. Jadi ia hanya mengenakan celana training panjang dan kaos seperti biasa.
Saat istirahat makan siang ia beristirahat dan menikmati hidangan yang disediakan. Saat itu Abram keluar dan berbincang dengannya. Menanyakan sejauh mana proyeknya, karena ia sibuk dengan pekerjaannya di dalam rumah. Ia mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Terlihat tonjolan celananya yang besar membuat mata pak tukang tertuju ke aarah sana. Ia bilang jika semuanya lancar besok sudah selesai dan tinggal menunggu kering.
Pak tukang berdiri untuk kembali bekerja. Saat itu Abram melihat tonjolan panjang di balik celana trainingnya, membuat miliknya tegang. Diam-diam setelah itu ia memperhatikan pak tukang dari kamarnya. Terlihat badannya yang bagus hanya berbalut celana panjang, dan belahan pantatnya terlihat saat ia duduk.
Ia mengoleskan baby oil dan bermain dengan miliknya dengan pemandangan tubuh pak tukang di luar. Ia mengerang saat memuntahkan kehangatan menyelimuti tubuhnya, dan tertidur.
Pak tukang memeriksa semen untuk membuat adukan lagi namun sayang semennya telah habis. Ia harus memberitahu Abram agar segera dibelikan. Ia pergi ke belakang rumah, mendapati pintu belakang terbuka. Ia memanggil namanya, tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi dan lagi namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia masuk rumah dan bilang permisi meskipun tidak ada orang yang dilihatnya. Ia menuju ruang tengah namun hanya melihat sofa, lemari dan TV yang menyala. Ia menuju kamar tidur, berpikir Abram ada di sana dan tertidur.
Saat ia melihat ke pintu kamar yang terbuka, memang Abram sedang tidur pulas, dengan keadaan tanpa baju dan cairan bening di perut dan dadanya, sebagian pinggirannya membentuk kerak karena mengering. Ia memanggil Abram, dan perlahan ia terbangun.
Abram kaget karena ada pak tukang di depan kamarnya. Dan kaget ia masih tidak memakai baju dan basah. Ia jadi malu ke pak tukang. Namun pak tukang terlihat tidak mempermasalahkan hal itu. Ia segera berangkat membeli beberapa kilo semen.
Pak tukang melanjutkan pekerjaannya sambil terbayang tubuh Abram tadi. Ingin rasanya ia mengeluarkannya saat itu juga namun ia takut ketahuan dan itu memang bukan waktunya selain bekerja. Abram tiba dengan semen. Tidak banyak sebenarnya tambahan semennya namun tetap saja dibutuhkan.
Sore setelah pekerjaan selesai, ia meminta maaf kepada pak tukang atas apa yang ia lihat tadi siang. Pak tukang tidak masalah, dan hanya tersenyum seperti memaklumi. Ia membersihkan tubuhnya dengan Abram memperhatikan tonjolan di celananya. Pak tukang mendapati Abram memperhatikannya dan terlihat celananya yang menggelembung.
Tubuhnya basah karena basuhan air dari keran dan merembes ke celana trainingnya. Ia sengaja memasukkan tangannya dan menggerakkan miliknya seolah ia sedang membersihkannya juga. Ia sedikit menurunkan celananya sehingga sebagian pantatnya dan bagian pangkal pribadinya terlihat sambil sesekali melihat ke arah Abram. Ia jongkok sambil membersihkan muka, dan semakin terlihat belahan pantat dan bentuknya yang sintal.
Abram tahu kalau pak tukang sengaja melakukannya. Ia berjalan menuju depan rumah. Melihat Abram menutup pintu pagar, pak tukang mulai memasukkan tangannya ke dalam celana trainingnya. Abram mendekat, dengan pak tukang membelakanginya. Tanpa ba bi bu ia membuka celana pendeknya, memperlihatkan sumber kehangatan yang siap memuntahkan kapan saja.
Ia mendekap pak tukang dari belakang, celana trainingnya yang sudah terlalu turun akhirnya dipelorotkan oleh Abram sambil menempelkan miliknya di pantat pak tukang. Ia menggesekkannya sambil tangannya membelai dada dan puting pak tukang yang padat.
Pak tukang merasakan tonjolan besar di belakang tubuhnya. Ia biarkan Abram bermain dengan tubuhnya. Dipegang dan digerakkannya tangan Abram untuk membelai dan meremas dadanya. Setelah puas, ia berbalik dan menghadap Abram, melihat badan Abram yang berisi dengan dadanya yang menggoda.
"Mas, di sana saja," kata pak tukang. Yang ia maksud adalah di kamar mandi. Mereka akhirnya pergi ke kamar mandi.
Dengan sigap ia melepas kaos Abram, mengangkat lengannya dan terlihat ketiaknya yang lebat dan harum. Pak tukang menghisap dada Abram, yang membuatnya mendesah.
"Gigit aja, Pak. Gak papa," Abram sambil mendesah, menyuruh pak tukang untuk menggigit putingnya. Tak menyia-nyiakan, pak tukang segera memainkan lidah dan giginya di puting Abram.
"Ah....," Abram sangat menikmati.
Ia melepaskan gigitannya dan bergerak ke atas, menjilati ketiak Abram. Begitu menikmatinya, sampai Abram tanpa sengaja menggeser putaran air dan tak terhindarkan air pun mengucur dari shower di atas mereka. Sesaat mereka terkejut. Namun akhirnya melanjutkan kembali.
Air membasahi ketiak Abram yang masih dimanjakan oleh lidah dan mulut pak tukang. Terasa sedikit pahit karena deodoran yang menyelimuti, namun ia tetap menikmatinya. Setelah itu giliran Abram yang menjelajahi tubuh pak tukang. Ia penasaran dengan puting dada oak tukang serta ketiaknya yang mulus. Ia menjilatinya. Bau bapak-bapak yang khas bercampur sisa partikel semen memberikan sensasi yang berbeda dan sangat menggairahkan.
Ia bergerak ke bawah dan menghangatkan pak tukang dengan mulutnya, dari ujung sampai pangkal. Begitu besar dan mulus, bahkan rambut di pangkal bisa dibilang tipis. Tetesan air shower menambah rasa dari pak tukang. Asin dan segar. Ia terus memainkam mulutnya. Pak tukang memilin kedua putingnya, sesekali meremas dadanya sambil menikmati kehangatan miliknya di mulut Abram. Berkali-kali ia mendesahkan kenikmatan.
Abram mempercepat permainannya, begitu juga pak tukang yang mempercepat gerakan pinggulnya ke arah wajah Abram. Tak tertahankan lagi, pak tukang memuntahkan kehangatan memenuhi rongga mulut Abram diiringi desahan bapak-bapak dan air shower yang masih mengalir seperti musik latar.
Mulutnya terasa penuh, Abram memuntahkanya dan mengenai paha pak tukang. Ia kembali berdiri dan menarik kepala pak tukang ke arah dadanya. Tak lupa ia menggenggam milik pak tukang, menggunakan tetes kehangatan untuk melicinkan miliknya.
Pak tukang kembali menggigit puting Abram sambil tangannya meremas dada dan memainkan puting Abram yang lain. Ia bergerak dari dada ke ketiak, kembali ke dada dan kembali lagi ke ketiak , dan kembali lagi menggigiti putingnya. Terlihat Abram mempercepat gerakannya di bawah.
"Pak...," erangnya dengan mata tertutup. Pak tukang masih menikmati tubuhnya.
"Ah...bentar lagi...," Abram masih mendesah tak karuan sambil ia menikmati gigitan pak tukang dan mencoba mengeluarkan kehangatannya. Ia semakin mendekati puncak.
"Bapak...ah... bapak...enak pak. Enak pak," ia begitu hanyut dalam kenikmatan pak tukang dan semakin dekat dengan puncak.
"Ah...bapak....ah....ah...pak...bapak...keluar...ah...bapak...," semburan kehangatan keluar darinya. Pak tukang masih menjilat dan menggigit putingnya, menghisapnya dan itu memberika sensasi yang luar biasa saat Abram mencapai puncak. Seperti bergetar.
Pak tukang mengakhiri permainannya di dada Abram dan memeluknya. Aroma tubuh mereka menyatu. Antara parfum, deodorant, aroma alami khas bapak-bapak dan partikel debu dan semen semua bercampur dibawah guyuran air shower di atas mereka.
"Terima kasih, mas," katanya kemudian.
"Sama-sama, pak," balas Abram.