Persimpangan Hati (Part 6)


Satya berusaha untuk langsung pulang, tidak mampir atau nongkrong dengan kawan kantornya sepulang kerja. Ia dengan semangat langsung pulang untuk bertemu Dani. Tidak sabar untuk berdua. Hanya dia dan Dani. 

Mungkin ia sedang jatuh cinta, atau mungkin perasaan itu sudah ada namun baru sekarang mulai nampak. Teringat saat pertama kali ia bertemu, membatunya membawa kardus Indomie berisi entah apa tapi berat. Atau saat mereka bermain bola di lapangan kecil dekat taman dan Dani tersungkur karena tersenggol oleh tim lawan, namun mereka tetap asik dan menikmati permainan. Atau saat mereka beli ayam bakar secara online namun sudah habis satu cup mie instan karena makanannya baru datang satu jam kemudian. Semua kenangan itu, melebur dalam perasaan dan hasrat sejak minggu lalu. 

Saat tahu Dani pulang (Dani selalu pulang belakangan), ia langsung menghampirinya. Ia sengaja masih mengenakan baju kerja lengkap, bahkan masih dengan sepatu dan tas kerjanya, yang membuat Dani bertanya kenapa tidak ganti baju dulu. 

Setelah masuk kamar, ia menaruh tas kerjanya dan segera menutup pintu kamar. Sebelumnya sepatu telah ia lepas di luar kamar, meninggalkan kaos kaki yang menutupi kakinya. 

"Aku berharap kamu yang membantu melepaskan dasiku sepulang kerja," dengan senyum cool-nya ia menggoda Dani. 

"Dengan senang hati aku akan membantu melepas bajumu," tambahnya. Ia mendekat dan mencium Dani. Ciuman mesra, pelan namun intens dan menggelora. 

"Aku bisa lepas bajuku sendiri," Dani mencoba menarik ulur penawaran Satya. Mereka masih berpelukan dan saling meraba. 

"Okay, gimana kalo sebagai gantinya," Satya mengarahkan tangan Dani ke balik kedua lengannya. 

"Shit! Kamu tahu kelemahanku," Dani sedikit kesal namun bahagia.

"Aku anggap penawaran diterima," Satya mencoba menyimpulkan. 

"Kamu tricky," ujarnya dan mencium pujaan hatinya dan mulai menggelitiki ketiaknya. 

"Buddy, geli," kemudian ia meraba dada Dani yang padat dan sedikit meremasnya, mencoba memelintir puting yang masih tertutup baju. 

"Aku tahu kamu menyukainya," goda Dani. Ia membiarkan Satya membuka beberapa kancing kemejanya dan menyelipkan tangannya, meraba dada dan memainkan putingnya. 

"Sepertinya kita impas," Satya begitu menikmati meraba rambut-rambut halus dada pria di depannya itu. 

Seketika ia melepas baju Dani, dan mencium, menjilati, sedikit menggigit puting merah muda favoritnya. Lama ia melakukannya, seperti balita yang tidak lepas dari dotnya. Dani mendesah, kadang menekan kepala Satya sehingga bisa menambah sensasi mulut dan lidah di putingnya. Keringat Satya membasahi bajunya yang masih lengkap. Terdapat bagian-bagian yang jelas terbasahi seperti punggung, dada dan ketiak. Satya terlihat begitu menggairahkan. 

Dani mencoba melepaskan dasi ketika Satya berusaha membuka kancing bajunya. Ia mengangkat dasi ke atas, melewati kepalanya, melemparkannya entah ke mana. Segera ia membelai badan Satya licin berpeluh. Perlahan jemarinya menuju ke daerah di balik lengannya, menemukan ketiak Satya yang juga basah. 

"Kamu sangat bergairah, Sat."

"I'm happy, Dan," segera ia membimbing Dani ke tempat tidur. 

Satya berbaring dan membiarkan Dani melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ia mengambil satu pack kondom dan gel dari saku celana kerjanya, menaruhnya dalam jangkauan tangan mereka. 

Melihat Satya terlentang membuatnya leluasa menjelajahi tubuh favoritnya. Ia membuka lebih lebar kemeja yang masih dipakai Satya dan mencoba membenamkan wajahnya di balik lengan pria itu. Satya akhirnya melepaskan kemejanya. Ketiaknya basah, Dani mencium dan menjilatinya seperti kucing menjilati tubuhnya sendiri. Bahkan sesekali ia menghisapnya, terbuai aroma dan gairah. Satya mendesah. Ia membuka celana Dani dan meremas apa yang ada di baliknya. Tak mau kerepotan, akhirnya mereka meluangkan waktu beberapa detik untuk bertingkah waras: melepaskan celana dengan semestinya.

Satya membuka kedua lengannya dan membiarkan Dani menjilati ketiak dan lengannya. Sementara sesuatu di bawah saling bersinggungan seperti dua pedang anggar. Mereka saling menggesekkan untuk menambah kenikmatan. Setelah puas, Satya membalikkan posisi sehingga sekarang Dani lah yang berada di bawah dan Satya mimiringkan tubuh, menghadap Dani.  Mereka berciuman sambil Satya meraih pelicin dan kotak kondomnya. 

Ia memiringkan tubuh Dani yang berada di sampingnya, sedikit membelakangi di bagian pinggul dan kakinya, namun wajah mereka masih saling menatap dan terus berciuman. Mereka berciuman seolah ingin memecahkan rekor berciuman terlama. 

Satya menjelajahi bagian belakang Dani dengan jemarinya, menemukan daerah tersembunyi di sana. Dani mengangguk dan ia pun meneruskan. Ia mengoleskan gel pelicin pada daerah itu, membuka bungkus kondom dan memasangkannya. Tidak lupa ia mengoles gel di permukaan kondom yang dipakainya. 

Ia kembali mencium Dani, tangannya memainkan putingnya sambil berusaha menyatukan tubuhnya. Pelan-pelan mereka mencoba bersatu.

"Ah..." Dani mendesah, sedikit menahan sakit di awal. Satya terus berusaha membuat Dani relax. 

"Sat...," Dani masih berusaha, "Ah...Sat."

"Oh...," Satya sepenuhnya memasuki Dani.

Mereka diam beberapa saat, tidak terburu-buru. Perlahan Satya memainkan ritmenya, sambil menghisap puting Dani. Mereka sangat menikmati moment itu. Beberapa menit setelah itu, Satya perlahan-lahan merebahkan tubuhnya sambil Dani memutar posisi sehingga sekarang ia duduk di atas Satya. 

Tubuh Dani bergerak naik turun seperti rodeo. Terkadang ia menarik maju dan kembali mendorong mundur, membuat Satya seperti melayang. Tak menyia-nyiakan posisinya, ia mulai menjilati ketiak dan dada Satya sambil menikmati dorongan Satya dari bawah. Mereka menaikkan ritme permainan. Peluh membasahi tubuh mereka yang telah licin. 

"Oh...enak banget, Dan. Ah...!" 

Dani memainkan miliknya, pelan namun perlahan meningkat. Ia mengoleskan gel dan kembali memainkannya dalam genggaman yang bergerak maju mundur. Satya lebih keras mendorong tubuhnya. 

"Sat...ah...ah...aaaahh...." Dani menuju puncak kenikmatan. Kehangatan keluar darinya, membasahi dada dan wajah Satya. 

Bersamaan dengan itu, Satya merasakan himpitan luar biasa dalam tubuh Dani. Seperti meremas namun begitu kuat sekaligus memanjakan. Ia menumpahkan kehangatan dalam tubuh Dani. Begitu hangat dan berlimpah. Dani merasakan getaran Satya saat kehangatan meliputinya. 







Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram