Posts

Showing posts from November, 2020

Sentuhan Menjelang Senja Part 2 (Tamat)

 Setelah romansa menjelang senja itu, Pak Sapto dan Pak Alwi lebih rajin mengolah lahannya. Saat istirahat siang, mereka seringkali menghabiskan waktu untuk meluapkan gairah, juga saat sore hari. Sungai, gubuk, pohon pisang adalah beberapa saksi bisu akan kehangatan mereka berdua.  Jagung telah dipanen, saatnya membersihkan lahan dari batang pohon jagung yang sebagian sudah berwarna kuning, serta rumput liar yang terus tumbuh. Pak Sapto membersihkan lahan dari batang jagung kering, menumpuknya untuk nantinya dibakar. Siang itu terik sekali. Lagi-lagi memang hanya ada ia dan Pak Alwi di kebun sebelah. Pak RT yang memiliki kebun di bagian depan memang jarang sekali mengecek.  "Istirahat dulu," pak Sapto terkejut saat Pak Alwi tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang, dengan sedikit memijitnya.  "Sedikit lagi, Pak," jawabnya. Pak Alwi beranjak ke gubuk dan meminum kopi di sana.  Sekitar lima belas menit Pak Sapto menyusul ke gubuk, menanggalkan kaosnya, duduk le...

Sentuhan Menjelang Senja Part 1

 Sebulan lagi jagung siap dipanen. Sekarang sudah tumbuh tinggi dan jagungnya sudah semakin besar. Pak Sapto seperti biasa bekerja di kebun setiap pagi, kadang siang menjelang Dzuhur pulang ke rumah, kadang juga pulang sore, dengan membawa bekal makan siang. Ini karena jarak kebun yang cukup jauh dari perkampungan. Tanah yang luas di pinggir jalan itu terbagi oleh kepemilikan para warga desa. Ada yang ditanami jagung, sayur-sayuran dan umbi-umbian. Terdapat turunan menuju sungai yang dinaungi pepohonan seperti kayu-kayuan, kelapa, bambu dan pisang yang tumbuh secara terus-menerus. Pondok peristirahatan berdiri di pinggir sebelum jalan turunan menuju sungai, sehingga ketika bersantai di gubuk bisa menikmati pemandangan air mengalir di bawah, meskipun banyak bagian yang tertutup rimbunnya pepohonan di pinggir sungai. Pak Sapto harus melewati beberapa lahan milik warga lainnya sebelum sampai ke kebun miliknya. Ada kebun pak RT yang jarang dikunjungi sehingga penuh dengan tanaman liar ...

Gairah Penggali Sumur

Musim kemarau memang problematik, apa lagi kalau bukan masalah air. Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya di sini saat musim kemarau warga membeli air bersih dari pemasok karena air sumur juga menipis. Kali ini Heri berniat untuk menambah kedalaman sumur di samping rumah agar bisa mengeluarkan banyak air. Jadi di samping beli, seridaknya masih ada persediaan untuk kebutuhan mendasar lainnya bisa dipenuhi dari air di sumur, pikir Heri. Ia menghubungi beberapa tukang sumur, namun ada yang sedang keluar kota ada juga yang memasang tarif selangit. Mungkin karena ini musim kemarau di mana permintaan penggalian lebih banyak. Sampai akhirnya ia menemukan tukang sumur yang bisa untuk melakukan penggalian. Dua orang bersedia melakukannya besok lusa. Heri memberikan alamatnya melalui telpon, tidak sulit untuk menemukan alamat rumahnya karena tidak jauh dari jalan raya.  Keduanya pun datang ke rumah Heri. Mereka adalah Agus dan Ferdi. Keduanya berumur 30-an tahun. Agus memiliki postur tingg...