Posts

Showing posts from October, 2020

Proyek Taman Rumah Abram

Setelah sekian tahun menabung, akhirnya Abram bisa membeli rumah ini. Meskipun bukan di kawasan perumahan berkelas, namun cukup nyaman. Lokasinya berada di luar pusat kota, di mana masih ada kelebihan tanah yang bisa dibangun sendiri oleh pembeli. Ia telah memagar sekeliling rumah, namun masih ada satu-dua bagian rumah yang harus diperbaiki.  Ia ingin membuat taman dengan jalan setapak di samping rumah. Setelah mencari referensi desain di internet, ia pun mencari tukang bangunan yang bisa mengerjakannya. Ia menemukan di akun media sosial yang menyediakan jasa tukang bangunan. Setelah sepakat, si tukang datang dan mereka berdiskusi tentang proyek kecil tersebut. "Kira-kira kayak gini, Pak," Abram menunjukkan gambar desain ke pak tukang. Sejenak pria paruh baya itu mengamati gambar desain dan memaparkan sarannya kepada Abram. "Bisa bisa. Tapi harus sedikit bongkar yang di pojok. Sedikit saja. Untuk pijakan-pijakannya tidak masalah." Akhirnya mereka sepakat untuk memul...

Persimpangan Hati (Part 7)

Beberapa hari itu seperti surga buat Satya karena bisa menghabiskan waktunya dengan Dani. Setiap malam mereka menghabiskan waktu bercumbu, menyatukan gairah. Dari situ mereka memiliki waktu untuk berbicara lebih personal tentang hubungan mereka, apalagi Satya yang sudah punya pacar Olin.  "Apa bakal kayak gini terus ntar?" Tanya Dani. Mereka berdua baru selesai memadu kasih, ia telentang di sebelah Satya dengan selimut menutupi bagian bawah mereka.  "Nggak, Dan. Aku yakin kita bisa berdua aja nanti. Jangan nyerah sama aku ya, buddy," Satya melingkarkan tangannya, mendekatkan kepala Dani ke bahunya, mencium dahinya.  "Kalaupun nanti kamu nggak percaya pas di tengah jalan, aku bakal terus berjuang biar bisa sama kamu, Dan," lanjutnya. "Aku sayang kamu. Sayang banget sama kamu." Ia senang mendengar kalimat itu dari mulut Satya.  Tangan Dani membelai tubuh Satya, dan berhenti di dada kirinya. Jemarinya mengikuti bekas luka di bawah puting. Ia menanya...

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Image
Sore itu Edo pergi ke rumah pak RT di lingkungan kosnya untuk membuat surat keterangan domisili yang nantinya ia gunakan untuk membuat SKCK di kepolisian. Rumahnya tidak jauh, hanya terpisah dua gang, kalau dihitung terpisah dua belas rumah saja dari tempat kosnya. Namun, istrinya bilang untuk kembali lagi besok pagi karena suaminya sedang tidak di rumah dan baru kembali nanti malam, mungkin larut.  Esok paginya Edo kembali ke rumah pak RT. Ia datang jam tujuh pagi agar tidak terburu-buru nanti ke kantor polisinya. Ditambah motornya sedang dibawa salah satu teman kos bersama teman-temannya, jadi akan sangat tidak santai kalau ia mengurusnya kesiangan.  Di depan rumahnya sudah ada pak RT yang sedang memeriksa mobil hitamnya. Ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri sampai tidak menyadari ada seseorang datang. Ia mengenakan singlet putih, khas bapak-bapak umur 45 tahunan dan celana pendek hitam. Pendek sekali celananya bahkan ketika ia jongkok untuk melihat bagi...

Titik Akhir Rute Jogging Baruku

Hampir setiap sore aku jogging untuk menjaga tubuh tetap fit. Aku menggunakan aplikasi di smartphone untuk menentukan rute dan jarak tempuh yang akan diambil. Beberapa sempat mengganti rute karena terlalu dekat, terlalu jauh, menerobos jalanan sempit, sampai akhirnya aku menemukan rute yang cocok sejauh 7 kilometer.  Rutenya melewati komplek pertokoan dan pemakaman umum, di tengah-tengah perjalanan terdapat kantor kelurahan dan persawahan di tepi jalan dan selanjutnya kawasan pertokoan lagi sampai kembali ke tempatku.  Aku memulai jogging pukul 4 sore dan berakhir saat matahari terbenam. Aku suka menikmati momen sunset karena itu menenangkan. Sore itu, saat lewat kantor kelurahan, kulihat ada bapak-bapak sedang mencari-cari sesuatu di dekat sawah di seberang jalan.  "Mas, bisa bantu sebentar?" Bapak itu memanggilku dengan logat Jawa yang kental. Aku menyeberang jalan, bertanya apa yang bisa kubantu. Ternyata ia ingin mengambil anak kucingnya yang berada di saluran air an...

Persimpangan Hati (Part 6)

Satya berusaha untuk langsung pulang, tidak mampir atau nongkrong dengan kawan kantornya sepulang kerja. Ia dengan semangat langsung pulang untuk bertemu Dani. Tidak sabar untuk berdua. Hanya dia dan Dani.  Mungkin ia sedang jatuh cinta, atau mungkin perasaan itu sudah ada namun baru sekarang mulai nampak. Teringat saat pertama kali ia bertemu, membatunya membawa kardus Indomie berisi entah apa tapi berat. Atau saat mereka bermain bola di lapangan kecil dekat taman dan Dani tersungkur karena tersenggol oleh tim lawan, namun mereka tetap asik dan menikmati permainan. Atau saat mereka beli ayam bakar secara online namun sudah habis satu cup mie instan karena makanannya baru datang satu jam kemudian. Semua kenangan itu, melebur dalam perasaan dan hasrat sejak minggu lalu.  Saat tahu Dani pulang (Dani selalu pulang belakangan), ia langsung menghampirinya. Ia sengaja masih mengenakan baju kerja lengkap, bahkan masih dengan sepatu dan tas kerjanya, yang membuat Dani bertanya kenapa ...

Persimpangan Hati (Part 5)

Suara adzan subuh membangunkan Satya dari tidur nyenyaknya. Meski terbilang singkat, namun ia benar-benar menikmati tidurnya, ditambah ada Dani di sampingnya sekarang. Dilihatnya Dani yang masih pulas, ia mencium dahinya, masih terbayang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ia membelai perut Dani, merasakan rambut-rambut halus dan kerak bekas cairan mereka yang telah mengering. Ia melanjutkan belaiannya ke bawah, dan memegang apa yang juga masih tertidur di sana.  Pelan-pelan Dani terbangun. Ia hanya memiringkan badan memunggungi sehingga Satya bisa memeluknya. Mereka kembali tertidur sampai akhirnya Satya bangun dan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi kerja.  Dani masih tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam. Ia terkejut namun bahagia sekali karena Satya memiliki perasaan yang sama dengannya. Sebenarnya ingin sekali ia menceritakan hal itu kepada Aji, namun akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan rahasia itu sampai ada waktu yang tepat untuk membe...

Persimpangan Hati (Part 4)

Sejak pertama ia melihat Aji ke kos Dani, Satya lebih ingin tahu tentang apa yang dilakukan mereka berdua. Dan semenjak keberatannya kepada Dani dekat dengan Aji malam itu, ia seringkali kesal karena Dani bersikap berbeda kepadanya. Ia sendiri belum mengerti perasaan apa yang ada dalam dirinya, namun ini ada hubungannya dengan Dani.  Ia sering sengaja tidak tidur walaupun sepulang kerja ia harus ke gym atau jalan dengan Olin dan pastinya ia butuh istirahat untuk esok hari, agar ia bisa menyapa Dani dan sedikit berbincang dengannya walaupun sebentar. Namun Dani sepertinya menghindar atau hubungan mereka yang semakin renggang oleh waktu. Atau keadaan. Dan seringkali ia mendapati Dani pulang diantar Aji. Tentunya ia tidak mau bertemu Aji karena ia pasti akan terlihat kesal karena tidak suka dengannya, jadi setelah Aji pulang ia baru keluar kamar, mencoba menyapa Dani. "Sibuk banget belakangan," tiba-tiba ia sudah ada di depan kamar Dani. Dani sedang ganti baju, melepas celana da...

Persimpangan Hati (Part 3)

Image
 Semalaman Dani tidak bisa tidur karena perasaan marah dan cemburu dengan apa yang ia lihat tadi pagi. Ia hanya membolak-balikkan badan dengan perasaan jengkel, scrolling timeline di media sosial, membaca obrolan grup alumni SMA yang bahkan sebenarnya dia tidak pernah tertarik tapi ia tetap membacanya hanya sebagai sebuah pengalihan. Menjelang tengah malam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia tetap berkutat dengan smartphone-nya, tidak peduli apapun yang terjadi di luar sana.  Sebenarnya ia hanya ingin tidur karena besok ia harus menangani acara klien di hotel. Ia tidak mau bekerja dengan kondisi badan lesu dan mata merah seperti habis kena saus sambal. Terlebih lagi disebabkan oleh perasaan cemburu. Payah sekali, pikirnya. Malam itu benar-benar buruk.  "Ya nanti saya akan koordinasikan lagi Pak. Masih menunggu konfirmasi, cutoff date besok lusa," seseorang sedang berbicara melalui voice call.  "Okay. Iya," Dani masih bengong sementara o...

Persimpangan Hati (Part 2)

 Sudah tiga hari Satya tidak terlihat di kos. Dani penasaran ke mana dia sebenarnya. Apakah dia pindah kosan? Ia coba mengintip melalui bagian luar jendela kamar Satya. Namun barang-barangnya masih di sana. Ditambah sepatu kets putihnya masih ada di luar pintu kamarnya. Dani duduk dengan sepatu kets putih milik Satya ditangannya.  Tidak terasa sudah hampir satu tahun mereka bertetangga. Meskipun tidak begitu akrab pada awalnya, namun beberapa minggu terakhir mereka mulai dekat. Seringkali Satya keluar kamar ketika mendengar ada suara orang membuka pintu di depan kamar kosnya. Ketika itu Dani, Satya hanya bertanya remeh-temeh seperti "Sudah pulang?", "Malam banget ni" dan lain-lain yang sekiranya hanya cukup dijawab dengan "Iya".  Kesibukan masing-masing membuat mereka berdua jarang mendapatkan waktu untuk mengobrol secara lebih dekat. Dani bekerja di hotel, dan pastinya seringkali pulang larut, apalagi karena dia harus menghadapi permintaan para tamu dan k...

Persimpangan Hati (Part 1)

"Baru pulang?"  "Oh!" sontak Dani kaget karena tiba-tiba ada suara pada jam 10 malam ketika penghuni kos lainnya entah berada di mana. "Sorry," Satya merasa tidak enak karena hampir membuatnya kena serangan jantung.  "No. It's okay. Nggak keluar?" tanya Dani Satya cuma tersenyum, dan itu sudah cukup membuat Dani benar-benar kena serangan jantung di tempat. Senyuman yang bisa menenangkan hati yang gundah, senyuman yang menjadi sinar harapan di tengah badai, senyuman yang membuat orang merasa baru gajian di akhir bulan, senyuman yang bisa menjinakkan hewan terbuas di Padang Srengeti sekalipun.  "Okay, otakku mulai kacau," gumam Dani dalam hati. "Entah kenapa kunci keparat ini nggak bisa masuk. Sialan." Ingin sekali dia mengumpat seperti itu tapi jelaslah tidak bisa karena dia tidak mau merusak suasana apalagi senyum Satya. Dani mulai gugup. Satya melihatnya dengan tatapan tanda tanya. Dani membalas dengan senyum selebar mung...