Persimpangan Hati (Part 5)

Suara adzan subuh membangunkan Satya dari tidur nyenyaknya. Meski terbilang singkat, namun ia benar-benar menikmati tidurnya, ditambah ada Dani di sampingnya sekarang. Dilihatnya Dani yang masih pulas, ia mencium dahinya, masih terbayang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ia membelai perut Dani, merasakan rambut-rambut halus dan kerak bekas cairan mereka yang telah mengering. Ia melanjutkan belaiannya ke bawah, dan memegang apa yang juga masih tertidur di sana. 


Pelan-pelan Dani terbangun. Ia hanya memiringkan badan memunggungi sehingga Satya bisa memeluknya. Mereka kembali tertidur sampai akhirnya Satya bangun dan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi kerja. 



Dani masih tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam. Ia terkejut namun bahagia sekali karena Satya memiliki perasaan yang sama dengannya. Sebenarnya ingin sekali ia menceritakan hal itu kepada Aji, namun akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan rahasia itu sampai ada waktu yang tepat untuk memberitahunya. 

Hari ini hotel ramai sekali, dan mereka berdua sibuk dengan kerjaan masing-masing. Namun Aji masih sempat ke tempatnya di sela-sela istirahat makan siang (mereka biasanya makan siang di kantin ketika hotel sedang ramai), menyapa dan memberi semangat seperti biasa. Aji mengajaknya nonton nanti malam, namun Dani dengan halus menolak karena kesibukan hari ini dan beberapa hari yang akan datang. Aji mengerti, memakluminya. Namun ia mengajaknya makan sate ayam di kedai dekat tempat kerja mereka selesai kerja, sebelum mereka pulang. Dani pun tidak bisa menolak karena menurutnya terlalu mengada-ada kalau dia menolak ajakannya, malah nanti si Aji jadi curiga.

"Nggak pernah nggak enak saté di sini," Aji menyantap tusuk demi tusuk sate seperti perayaan Thaipusam, hanya saja bambu itu tidak sampai menusuk pipi atau hidungnya.

"Setuju," Dani membenarkan, "asli Bangkalan yang jual."

Mereka menghabiskan seporsi saté dan lontong lebih cepat daripada ular menelan seekor musang. Selain karena enak, faktor lapar adalah pemicu kecepatan makan mereka malam itu. Selesai makan mereka pulang, Aji mengantarkan Dani ke kosannya. Yang aneh adalah tidak ada pembicaraan tentang Satya bahkan ketika mereka makan. Terima kasih, cak saté, ingin rasanya Dani menyampaikannya langsung ke tukang saténya untuk kelezatan yang melalaikan itu.




Satya menemani Olin beli skincare sepulang kerja. Mereka terlihat serasi sekali, dan nggak sungkan memamerkan kemesraan seperti dunia hanya milik mereka berdua. Saat jalan, dengan anggun Olin memegang tangan sang pacar. Saat makan, mereka masih sempat bercanda yang membuat pengunjung lain kadang menoleh ke arah mereka, dengan tatapan wajar, iri atau malah sebal. 

"Beib," Olin mencoba menyuapi Satya namun dia malah ketawa karena itu berlebihan. Akhirnya ia makan sendiri suapannya itu. 

"Sorry," lanjutnya, "Besok lusa aku pulang. Jenguk orangtua. Sekalian ada beberapa urusan yang harus diselesaiin."

Satya diam sesaat, "Emang berapa hari?"

"Delapan harian, moga semua cepat selesai." 

"Jaga diri ya. Moga semua lancar," mereka lanjut makan. Satya dalam hati sedikit lega karena beberapa hari ke depan ia bisa menghabiskan waktu dengan Dani.  

Sekitar jam delapan Satya tiba di kos. Bersamaan dengan Dani yang baru datang diantar Aji. Saat lewat, ia melihat Aji mengusap baju Dani di bagian perut, dan Satya mulai jengkel karena cemburu.

"Saus kacang saté tadi ini kayaknya. Kirain apaan," ujar Aji.

"Terlalu semangat makannya," sambung Dani.

"Terlalu lapar," Aji mengoreksi. 

"Haha benar juga," lanjut Dani. 

Satya memutar kunci pintunya seperti teknisi memutar mesin genset manual. Keras sekali bunyi ceklak-cekleknya. 

"Okay. Aku balik dulu. Sat," Aji langsung pamit dan menyapa Satya. Ia menoleh ke Aji, "Okay. Hati-hati, bro." Jawabnya sekaligus mencoba menyembunyikan perasaan campur-aduk setiap kali melihat Dani bersamanya. Apakah ini juga yang dirasakan Dani ketika melihatnya dengan Olin? Entahlah. Ia masuk ke kamar dan menaruh tas kerjanya. Dan segera menghampiri Dani, masih dengan kemeja, dasi dan celana kerjanya ia ke kamar Dani. 

"Kenapa tadi bajunya?" Dia sudah di depan pintu kamar Dani. 

"Oh, ini kena saus saté. Tadi kita makan saté terlalu semangat jadi nggak tahu kalo kena ke baju," jawab Dani sambil melepas bajunya. 

Satya masuk dan menutup pintu kamar. Ia mendekati Dani dan segera menciumnya dengan mesra. Ia sangat merindukaannya. Begitu juga Dani. 

"Kamu masih marah kalo mas Aji ke sini?" Tanya Dani tiba-tiba.

"Iya. Nggak. Dia perhatian banget sama kamu." Jawab Satya sambil mereka bertatapan. 

"Aku cemburu, Dan," Satya memeluknya dengan erat sambil mengusap-usap bahu. 

"I know," jawab Dani singkat. 

Mereka kembali bertatapan. Perlahan ia menarik, mencoba melepaskan dasi Satya. Sesekali membelai dada pujaan hatinya itu yang terbungkus kemeja kerja. Satya membuka kancing bajunya setelah Dani melonggarkan dasinya. Ia meraba tubuh Dani yang tidak lagi tertutup baju, menikmati rambut-rambut halus di dada dan perut, tak lupa putingnya juga menjadi incaran. 

Dani tersenyum, "Suka?" Ia menggoda Satya dengan pertanyaannya. Satya mendorongnya ke tembok dan mulai memainkan lidahnya di leher, dada dan perut Dani. Ia juga membuka risleting celana Dani dan langsung menikmati apa yang ia temukan dibaliknya. 

Setelah puas, Satya kembali menciumnya. Perlahan ia membuka kemejanya dan Dani segera meraba lengannya yang seksi. Dalam sekejap celananya pun tanggal. Mereka bertukar posisi dengan Satya sekarang yang berdiri, bersandar di tembok.

Ia menikmati yang dibalik celana Satya. Besar dan keras. Ia memainkannya dengan lihai sampai Satya beberapa kali mengerang dan bilang akan mencapai puncak.  Namun, ia tidak mempedulikan erangan itu dan tetap menikmatinya, memainkan dengan mulut dan lidahnya. Sampai akhirnya Satya tidak bisa menahan lagi dan cairannya memenuhi mulut Dani. Ia menelannya namun masih ada yang tersisa di bibirnya.

Satya menciumnya yang masih berlumur cairan putih. Sedikit jijik awalnya, namun ia segera beradaptasi dan menikmatinya. Bau anyir dan tekstur kental itu. Miliknya masih tegang dan keras, menyisakan beberapa tetesan terakhir. Dani mengangkat lengan Satya dan mulai mencium, mengendus dan menjilati ketiaknya. Satya mendesah keenakan, dan memainkan milik Dani dengan cairan miliknya yang masih tersisa. Tangannya memainkan puting merah muda Dani dan itu semakin membuat lawannya bersemangat menjelajahi ketiak lebatnya. 

Dani memainkan miliknya sambil terus membenamkan wajahnya dibalik lengan Satya. Ia menikmati jari-jari Satya yang memelintir putingnya dan aroma ketiak Satya yang maskulin. Perlahan ia menaikkan ritme permainan di bawah. Semakin cepat sampai akhirnya Satya merasakan kehangatan di perutnya. Mereka puas. 

Dani memeluknya, dan Satya masih di posisinya, berdiri bersandar di tembok. Ia merasakan milik Dani yang masih keras menempel di tubuhnya. Mereka tertawa. 

"Besok lusa Olin balik jenguk ortunya," ia mencium leher Dani, "jadi kita bisa menghabiskan waktu bersama." 

"Kamu tidur sini aja," balas Dani. Satya mengeratkan pelukannya, tanda ia setuju. 


 

Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram