Persimpangan Hati (Part 4)

Sejak pertama ia melihat Aji ke kos Dani, Satya lebih ingin tahu tentang apa yang dilakukan mereka berdua. Dan semenjak keberatannya kepada Dani dekat dengan Aji malam itu, ia seringkali kesal karena Dani bersikap berbeda kepadanya. Ia sendiri belum mengerti perasaan apa yang ada dalam dirinya, namun ini ada hubungannya dengan Dani. 


Ia sering sengaja tidak tidur walaupun sepulang kerja ia harus ke gym atau jalan dengan Olin dan pastinya ia butuh istirahat untuk esok hari, agar ia bisa menyapa Dani dan sedikit berbincang dengannya walaupun sebentar. Namun Dani sepertinya menghindar atau hubungan mereka yang semakin renggang oleh waktu. Atau keadaan. Dan seringkali ia mendapati Dani pulang diantar Aji. Tentunya ia tidak mau bertemu Aji karena ia pasti akan terlihat kesal karena tidak suka dengannya, jadi setelah Aji pulang ia baru keluar kamar, mencoba menyapa Dani.

"Sibuk banget belakangan," tiba-tiba ia sudah ada di depan kamar Dani.

Dani sedang ganti baju, melepas celana dan terlihat boxer yang membungkus pantat dan bagian depan tubuhnya. Begitu menonjol dan mencuri perhatian.

"Oh, hai Sat. Belum tidur jam segini?" tanyanya balik, "Banyak acara group dari pemerintahan dan perusahaan," sambungnya. Ia berjalan ke luar kamar dengan hanya memakai boxer dan bulge terlihat jelas bentuknya. 

Seketika Satya merasa jantungnya berdetak cepat melihat apa yang ada di depannya. Tubuh Dani berkulit cerah, dada berisi ditutupi bulu halus sampai pusar dan lebih lebat lagi ke arah bawah, serta puting merah muda yang membuatnya ingin terus menatapnya.

Entah kenapa ia ingin memeluk pria yang ada di depannya itu, merasakan aroma lehernya dan menghabiskan waktu dengan berbincang tidak hanya seputar basa-basi "Sibuk banget kayaknya" atau "Kok pulang malam banget". Tidak. Ia ingin tahu apa yang membuat Dani berubah sikap terhadapnya, mengapa sebenarnya ia tidak suka dengan Aji dekat dengannya, dan masih banyak lagi. Dan tiba-tiba pemandangan Dani dan Aji terlintas di pikirannya. 

"Dan Aji sering antar kamu pulang," kata dia dengan datar. Dingin. Entah kenapa kalimat itu bisa keluar. Mungkin karena memang dia tidak suka Aji.

"Kan Mas Aji satu arah jadi sekalian nemenin pulang," Dani mencoba menjelaskan.

"I see. Aji nemenin kamu pulang. Nemenin kamu pulang," ujar Satya dingin, dan segera berbalik ke arah kamarnya. Dani masih berdiri di sana, tahu bahwa Satya kesal karena ia dekat dengan Aji, tapi ia juga kesal ketika Satya dengan Olin. Dan selama ini ia mencoba menahan perasaan itu.



Weekend itu Satya mengajak Olin untuk ke kafe yang seperti Dani bilang dulu. Ia mengajak Olin karena pacarnya pasti senang dengan live akustik di sana, dan sesampainya di sana, ternyata memang nyaman tempatnya. Nuansa putih biru dihiasi tanaman rambat dan bunga serta lampu kecil di sela-sela tanaman menjadikan tempat ini lebih berwarna, ditambah menunya yang lebih ke Eropa dan Mediterania. Mulai pizza mini, souvlaki, couscous, Greek salad dan masih banyak lagi. Namun sebenarnya tujuannya ke sini adalah karena mungkin saja ia akan bertemu Dani dan Aji. 

Band sedang memainkan Family of the Year ketika mereka datang. 

"Bagus banget tempatnya," Olin senang sekali. Mereka duduk di pojok agak jauh dari akustik band sehingga bisa menikmati pemandangan yang lebih luas. 

Setelah hampir satu jam di sana, ia tidak melihat Dani di antara para pengunjung. Ingin ia mengirimkan pesan singkat hanya untuk menanyakan sedang apa, atau lagi di mana. Namun buat apa? Ia check statusnya juga kosong. Dan Instagram dia juga private. Olin terlihat masih menikmati menu di depannya dan musik yang mengalun ringan dan romantis. Ia merasa bersalah kepada Olin karena meskipun dia di sini menemaninya, namun pikirannya ke hal-hal lain. Ke orang lain.  

Setibanya ia di kos, Dani belum juga pulang. Ia mulai khawatir, dan pikirannya terlalu mencurigai Aji yang akan bertindak macam-macam kepada Dani. Satya tidak tidur, membiarkan pintu kamarnya terbuka, seperti biasa.
 


Di tempat yang berbeda, Dani dan Aji sedang menikmati pemandangan dari bukit. Dari atas terlihat bintang-bintang dan pantulan lampu kota di kejauhan bawah sana. 

"Nggak sia-sia dua jam perjalanan," Dani takjub dengan apa yang dilihatnya dari bukit. Pemandangan malam yang sangat menenangkan. Jauh dari hiruk-pikuk. Terdapat view point  dan beberapa penjual jagung rebus dan beberapa kudapan dan minuman hangat lainnya untuk mengimbangi dinginnya udara di tempat itu. 

"Bagus kan? Apalagi berdua gini," jawab Aji sambil menatap Dani. Mereka berdua bertatapan sampai akhirnya Aji mengalihkan dengan menunjuk ke arah lampu kota. 

"Kayaknya Satya nggak suka sama kamu, mas Aji," celetuknya.

"Karena kita dekat?" 

"Sepertinya," sambil menatap pemandangan kota ia melanjutkan, "Tapi kita dekat karena kita dekat, nggak ada alasan lain." Mereka kembali bertatapan.

"Apa dia akan menonjok mukaku kalau aku menciummu?" Tanya Aji ketika mereka masih bertatapan, seolah ingin menciumnya dengan sungguh-sungguh. 

"Haha...harusnya dia cium aku dulu daripada nonjok kamu. Kalau emang dia ngerasain hal yang sama," potong Dani.

Mereka berdua tertawa. Namun, tanpa disadari, sebenarnya Aji benar-benar ingin menciumnya saat itu. Perasaannya muncul seiring hubungan mereka yang semakin dekat dari hari ke hari. 

"Dan, aku lebih bahagia kalau Satya nggak marah saat kamu dekat denganku," batinnya. 



Pukul satu dini hari ia mendengar suara Dani tiba di kosan. Seketika ia keluar kamar dan mendapati ia dan Aji. 

"Thanks mas," ucap Dani.

"Sama-sama, Dan. Pulang dulu. Sat." Balas Aji saat pamit dan melihat Satya keluar kamarnya. Tinggal mereka berdua di sana. 

"Kemana aja?" Tanyanya singkat.

"Ke bukit tadi. Dingin banget di sana tapi pemandangannya bagus. Puas lah," jawab Dani.

"Puas. Di bukit sampai tengah malam. Aku berharap mendengar hal lain." Satya terdengar kesal. Ia sepertinya sudah memendam kekhawatiran terhadap Dani dan takut kalau ada apa-apa antara ia dan Aji. Dan sekarang sepertinya ia akan meluapkannya. Dani diam.

"Berdua aja?" lanjut Satya, masih dengan kesal namun kini semakin jelas dari nada dan cara ia bicara. 

Dani membuka pintu kamar, "Iya," dan segera masuk. Namun, Satya mengikuti di belakangnya. 

"Aku nggak suka kamu dekat sama dia," Satya berbicara, sedikit menunduk. Ia mencoba mengatur nafas setelah sedikit luapan emosi barusan.

"Dan," lanjutnya. Ia bingung harus bilang apa, tapi satu yang pasti bahwa kehadiran Aji di dekat Dani membuat hatinya campur aduk. Dani diam, masih memunggungi Satya, ketika perlahan Satya mendekat dan mengalungkan kedua tangan ke pinggangnya. Memeluk sambil tetap menunduk, sehingga kepalanya bersandar di pundak Dani. 

Beberapa saat mereka mencoba menyesuaikan diri dengan suasana. Dani bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, dan mungkin punya Satya juga, pikirnya. Satya merapatkan pelukannya, mereka mulai menikmati. Dani memegang tangan Satya yang memeluknya, sampai ia berbalik. Namun, Satya masih menunduk. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Dani dengan tangan masih melingkari pinggangnya. 

Butuh waktu untuk mencerna semua ini, dan akhirnya Satya mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. 

"Sat," ucap Dani namun Satya menciumnya sehingga Dani tidak bisa melanjutkan apa yang ingin diucapkannya. 

Mereka berciuman dengan pelan dan lama, seakan itu adalah luapan segala perasaan dan jawaban dari pertanyaan yang selama ini disimpan.

Satya mengarahkan tangannya melepas kancing kemeja Dani dan menembus di baliknya. Dirasakannya bulu-bulu halus dada Dani dan mengelus puting merah mudanya. Setelah itu ia melepas kaos polos yang ia kenakan dan lanjut berciuman. 

Dani meraba lengan atas Satya yang kencang. Ia mendorong Satya ke arah pintu. Satya mendorong pintu secara asal dengan kakinya. "Brak." Pintu tertutup. Dani mendorongnya ke tembok, dan mereka melanjutkan ciuman seakan-akan penuh dendam yang harus teebalaskan malam itu juga. 

Selesai meremas lengannya yang padat, Dani menyelipkan tangannya dibalik ketiak Satya. Terbawa gairah, Satya mengangkat kedua lengannya untuk Dani bisa menjelajahi dan menikmati apa yang terungkap di sana.

"Dan," Satya menikmati apa yang dilakukan Dani terhadapnya. Ia menikmati apa yang ia lakukan kepada Dani. Ia menikmati setiap detik saat itu. Dani kembali menciumnya, sekarang dengan bergelora dan menggebu-gebu. Satya mengarahkannya ke tempat tidur, sambil ia melucuti boxernya sendiri dan membuka risleting celana Dani, melepaskannya.

"Kemeja," Satya memintanya. Dani pun melepaskan kemejanya. Dan sekarang mereka berada di ranjang. Dengan Satya di atas tubuh Dani. Mereka berciuman seakan itu adalah hal terakhir yang akan mereka lakukan. Satya meraba boxer Dani dan mendapati tonjolan besar di sana. Perlahan ia menyisipkan tangannya dan mengelus benda keras di balik boxer itu. 

Sambil tetap sibuk dengan boxer, ia mulai menjelajahi leher Dani, mengecupnya, menciumnya inci demi inci. Bibirnya menuruni leher dan berlabuh di dada Dani, mulai memainkan puting merah muda yang membuatnya terpaku saat pertama kali melihatnya. Ia memainkan lidah di putingnya, kadang sedikit menggigit dan menghisap, membuat Dani semakin mengerang.

Dani sedikit mengangkat tubuhya agar Satya bisa melepas boxer dan melakukan apa akan dilakukan. Kini tidak ada yang membatasi mereka berdua, bahkan tidak sehelai benang pun. Tubuh mereka siap menyatu dan gairah lama yang terpendam seperti bara yang tak kunjung padam.





Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram