Posts

Showing posts from 2020

Sentuhan Menjelang Senja Part 2 (Tamat)

 Setelah romansa menjelang senja itu, Pak Sapto dan Pak Alwi lebih rajin mengolah lahannya. Saat istirahat siang, mereka seringkali menghabiskan waktu untuk meluapkan gairah, juga saat sore hari. Sungai, gubuk, pohon pisang adalah beberapa saksi bisu akan kehangatan mereka berdua.  Jagung telah dipanen, saatnya membersihkan lahan dari batang pohon jagung yang sebagian sudah berwarna kuning, serta rumput liar yang terus tumbuh. Pak Sapto membersihkan lahan dari batang jagung kering, menumpuknya untuk nantinya dibakar. Siang itu terik sekali. Lagi-lagi memang hanya ada ia dan Pak Alwi di kebun sebelah. Pak RT yang memiliki kebun di bagian depan memang jarang sekali mengecek.  "Istirahat dulu," pak Sapto terkejut saat Pak Alwi tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang, dengan sedikit memijitnya.  "Sedikit lagi, Pak," jawabnya. Pak Alwi beranjak ke gubuk dan meminum kopi di sana.  Sekitar lima belas menit Pak Sapto menyusul ke gubuk, menanggalkan kaosnya, duduk le...

Sentuhan Menjelang Senja Part 1

 Sebulan lagi jagung siap dipanen. Sekarang sudah tumbuh tinggi dan jagungnya sudah semakin besar. Pak Sapto seperti biasa bekerja di kebun setiap pagi, kadang siang menjelang Dzuhur pulang ke rumah, kadang juga pulang sore, dengan membawa bekal makan siang. Ini karena jarak kebun yang cukup jauh dari perkampungan. Tanah yang luas di pinggir jalan itu terbagi oleh kepemilikan para warga desa. Ada yang ditanami jagung, sayur-sayuran dan umbi-umbian. Terdapat turunan menuju sungai yang dinaungi pepohonan seperti kayu-kayuan, kelapa, bambu dan pisang yang tumbuh secara terus-menerus. Pondok peristirahatan berdiri di pinggir sebelum jalan turunan menuju sungai, sehingga ketika bersantai di gubuk bisa menikmati pemandangan air mengalir di bawah, meskipun banyak bagian yang tertutup rimbunnya pepohonan di pinggir sungai. Pak Sapto harus melewati beberapa lahan milik warga lainnya sebelum sampai ke kebun miliknya. Ada kebun pak RT yang jarang dikunjungi sehingga penuh dengan tanaman liar ...

Gairah Penggali Sumur

Musim kemarau memang problematik, apa lagi kalau bukan masalah air. Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya di sini saat musim kemarau warga membeli air bersih dari pemasok karena air sumur juga menipis. Kali ini Heri berniat untuk menambah kedalaman sumur di samping rumah agar bisa mengeluarkan banyak air. Jadi di samping beli, seridaknya masih ada persediaan untuk kebutuhan mendasar lainnya bisa dipenuhi dari air di sumur, pikir Heri. Ia menghubungi beberapa tukang sumur, namun ada yang sedang keluar kota ada juga yang memasang tarif selangit. Mungkin karena ini musim kemarau di mana permintaan penggalian lebih banyak. Sampai akhirnya ia menemukan tukang sumur yang bisa untuk melakukan penggalian. Dua orang bersedia melakukannya besok lusa. Heri memberikan alamatnya melalui telpon, tidak sulit untuk menemukan alamat rumahnya karena tidak jauh dari jalan raya.  Keduanya pun datang ke rumah Heri. Mereka adalah Agus dan Ferdi. Keduanya berumur 30-an tahun. Agus memiliki postur tingg...

Proyek Taman Rumah Abram

Setelah sekian tahun menabung, akhirnya Abram bisa membeli rumah ini. Meskipun bukan di kawasan perumahan berkelas, namun cukup nyaman. Lokasinya berada di luar pusat kota, di mana masih ada kelebihan tanah yang bisa dibangun sendiri oleh pembeli. Ia telah memagar sekeliling rumah, namun masih ada satu-dua bagian rumah yang harus diperbaiki.  Ia ingin membuat taman dengan jalan setapak di samping rumah. Setelah mencari referensi desain di internet, ia pun mencari tukang bangunan yang bisa mengerjakannya. Ia menemukan di akun media sosial yang menyediakan jasa tukang bangunan. Setelah sepakat, si tukang datang dan mereka berdiskusi tentang proyek kecil tersebut. "Kira-kira kayak gini, Pak," Abram menunjukkan gambar desain ke pak tukang. Sejenak pria paruh baya itu mengamati gambar desain dan memaparkan sarannya kepada Abram. "Bisa bisa. Tapi harus sedikit bongkar yang di pojok. Sedikit saja. Untuk pijakan-pijakannya tidak masalah." Akhirnya mereka sepakat untuk memul...

Persimpangan Hati (Part 7)

Beberapa hari itu seperti surga buat Satya karena bisa menghabiskan waktunya dengan Dani. Setiap malam mereka menghabiskan waktu bercumbu, menyatukan gairah. Dari situ mereka memiliki waktu untuk berbicara lebih personal tentang hubungan mereka, apalagi Satya yang sudah punya pacar Olin.  "Apa bakal kayak gini terus ntar?" Tanya Dani. Mereka berdua baru selesai memadu kasih, ia telentang di sebelah Satya dengan selimut menutupi bagian bawah mereka.  "Nggak, Dan. Aku yakin kita bisa berdua aja nanti. Jangan nyerah sama aku ya, buddy," Satya melingkarkan tangannya, mendekatkan kepala Dani ke bahunya, mencium dahinya.  "Kalaupun nanti kamu nggak percaya pas di tengah jalan, aku bakal terus berjuang biar bisa sama kamu, Dan," lanjutnya. "Aku sayang kamu. Sayang banget sama kamu." Ia senang mendengar kalimat itu dari mulut Satya.  Tangan Dani membelai tubuh Satya, dan berhenti di dada kirinya. Jemarinya mengikuti bekas luka di bawah puting. Ia menanya...

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Image
Sore itu Edo pergi ke rumah pak RT di lingkungan kosnya untuk membuat surat keterangan domisili yang nantinya ia gunakan untuk membuat SKCK di kepolisian. Rumahnya tidak jauh, hanya terpisah dua gang, kalau dihitung terpisah dua belas rumah saja dari tempat kosnya. Namun, istrinya bilang untuk kembali lagi besok pagi karena suaminya sedang tidak di rumah dan baru kembali nanti malam, mungkin larut.  Esok paginya Edo kembali ke rumah pak RT. Ia datang jam tujuh pagi agar tidak terburu-buru nanti ke kantor polisinya. Ditambah motornya sedang dibawa salah satu teman kos bersama teman-temannya, jadi akan sangat tidak santai kalau ia mengurusnya kesiangan.  Di depan rumahnya sudah ada pak RT yang sedang memeriksa mobil hitamnya. Ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri sampai tidak menyadari ada seseorang datang. Ia mengenakan singlet putih, khas bapak-bapak umur 45 tahunan dan celana pendek hitam. Pendek sekali celananya bahkan ketika ia jongkok untuk melihat bagi...

Titik Akhir Rute Jogging Baruku

Hampir setiap sore aku jogging untuk menjaga tubuh tetap fit. Aku menggunakan aplikasi di smartphone untuk menentukan rute dan jarak tempuh yang akan diambil. Beberapa sempat mengganti rute karena terlalu dekat, terlalu jauh, menerobos jalanan sempit, sampai akhirnya aku menemukan rute yang cocok sejauh 7 kilometer.  Rutenya melewati komplek pertokoan dan pemakaman umum, di tengah-tengah perjalanan terdapat kantor kelurahan dan persawahan di tepi jalan dan selanjutnya kawasan pertokoan lagi sampai kembali ke tempatku.  Aku memulai jogging pukul 4 sore dan berakhir saat matahari terbenam. Aku suka menikmati momen sunset karena itu menenangkan. Sore itu, saat lewat kantor kelurahan, kulihat ada bapak-bapak sedang mencari-cari sesuatu di dekat sawah di seberang jalan.  "Mas, bisa bantu sebentar?" Bapak itu memanggilku dengan logat Jawa yang kental. Aku menyeberang jalan, bertanya apa yang bisa kubantu. Ternyata ia ingin mengambil anak kucingnya yang berada di saluran air an...

Persimpangan Hati (Part 6)

Satya berusaha untuk langsung pulang, tidak mampir atau nongkrong dengan kawan kantornya sepulang kerja. Ia dengan semangat langsung pulang untuk bertemu Dani. Tidak sabar untuk berdua. Hanya dia dan Dani.  Mungkin ia sedang jatuh cinta, atau mungkin perasaan itu sudah ada namun baru sekarang mulai nampak. Teringat saat pertama kali ia bertemu, membatunya membawa kardus Indomie berisi entah apa tapi berat. Atau saat mereka bermain bola di lapangan kecil dekat taman dan Dani tersungkur karena tersenggol oleh tim lawan, namun mereka tetap asik dan menikmati permainan. Atau saat mereka beli ayam bakar secara online namun sudah habis satu cup mie instan karena makanannya baru datang satu jam kemudian. Semua kenangan itu, melebur dalam perasaan dan hasrat sejak minggu lalu.  Saat tahu Dani pulang (Dani selalu pulang belakangan), ia langsung menghampirinya. Ia sengaja masih mengenakan baju kerja lengkap, bahkan masih dengan sepatu dan tas kerjanya, yang membuat Dani bertanya kenapa ...