Sentuhan Menjelang Senja Part 2 (Tamat)
Setelah romansa menjelang senja itu, Pak Sapto dan Pak Alwi lebih rajin mengolah lahannya. Saat istirahat siang, mereka seringkali menghabiskan waktu untuk meluapkan gairah, juga saat sore hari. Sungai, gubuk, pohon pisang adalah beberapa saksi bisu akan kehangatan mereka berdua.
Jagung telah dipanen, saatnya membersihkan lahan dari batang pohon jagung yang sebagian sudah berwarna kuning, serta rumput liar yang terus tumbuh. Pak Sapto membersihkan lahan dari batang jagung kering, menumpuknya untuk nantinya dibakar. Siang itu terik sekali. Lagi-lagi memang hanya ada ia dan Pak Alwi di kebun sebelah. Pak RT yang memiliki kebun di bagian depan memang jarang sekali mengecek.
"Istirahat dulu," pak Sapto terkejut saat Pak Alwi tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang, dengan sedikit memijitnya.
"Sedikit lagi, Pak," jawabnya. Pak Alwi beranjak ke gubuk dan meminum kopi di sana.
Sekitar lima belas menit Pak Sapto menyusul ke gubuk, menanggalkan kaosnya, duduk lesehan merasakan semilir angin di bawah naungan pondok kecil itu. Pak Alwi masih duduk di sana menyeruput kopi.
Melihat kawannya bertelanjang dada, ia mendekat. Ia memijat punggung Pak Sapto yang penuh peluh, sementara yang dipijat asik meminum kopi.
"Sepi," Pak Sapto membuka percakapan.
"Ayo lah," jawab Pak Alwi singkat, menandakan ajakan untuk bermanja.
Setelah seruputan terakhir kopinya ia menjawab, "Habis kopi, sekarang susu." Ia membalikkan badannya menghadap Pak Alwi.
Ia mengangkat kaos Pak Alwi yang menampakkan perut buncitnya dan dadanya yang menggoda. Berbeda dengan miliknya, tubuh Pak Alwi ditutupi rambut halus yang sebagian sudah memutih, walaupun umur mereka sama-sama di 50 tahunan.
Dengan cekatan ia langsung melabuhkan wajahnya ke dada Pak Alwi. Ia menghisap dan memainkan ujung lidah di putingnya. Pak Alwi hanya diam menikmati, matanya sedikit terpejam seperti orang mabuk. Namun ini bukan karena alkohol, tapi karena permainan lidah dan sentuhan kumis Pak Sapto. Ia menekan kepala teman sebayanya itu lebih dalam, menekan mulut untuk semakin menghisap dadanya.
"Mmmmm...," gumamnya saat Pak Sapto menggigit putingnya seperti bayi yang sedang menyusu.
Setelah puas, Pak Sapto menciumnya dengan mesra. Merek saling memagut, merasakan lidah satu sama lain. Wangi kopi masih mengambang di mulut mereka. Pak Sapto menggigit bibir atas Pak Alwi yang ditutupi kumis lebat yang sudah ditumbuhi rambut putih.
Tak mau kalah, ia pun membalas dengan memagut bibir atas Pak Sapto, merasakan kumis hitam lebatnya dan kumisnya saling bergesek. Tangannya menjelajahi bagian dalam lengan Pak Sapto, merasakan ketiaknya yang lebat dan masih basah karena keringat ia bekerja tadi.
Ia mengangkat lengan Pak Sapto sementara mereka masih berciuman. Setelah itu, segera ia mengakhiri ciuman panas dan bersiap menjelajahi lebatnya ketiak kawannya itu.
Ia mengendusnya, mencium aroma lelaki petani yang telah berbagi kehangatan dengannya selama beberapa minggu ini. Masih basah oleh keringat, ia semakin menikmati dan terus mengendus dan mulai menjilat-jilat. Entah kenapa tapi ia juga mencium aroma batang jagung dari tubuh Pak Sapto.
"Ah...enak Pak é...," desah Pak Sapto karena jilatan rekannya itu.
Selesai dengan jilatannya, Pak Alwi bergerak ke leher Pak Sapto, menciuminya. Ada beberapa rambut jagung yang sudah kering menempel di leher karena keringat.
"Ehm...," Pak Alwi masih menciumi leher Pak Sapto.
"Ehm...ehm...," Mereka berdua masih dibuai hasrat, namun segera sadar ternyata suara deheman itu bukan dari mereka. Mereka mengakhiri kemesraan singkat itu dengan perasaan gugup.
Mereka melihat Pak RT, pemilik kebun paling depan berdiri tak jauh dari pondok. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana mengamati perbuatan tabu di hadapannya. Ia mengenakan kaos polo bergaris dan celana pendek dengan sandal slop cokelat. Kepalanya yang botak seakan memantulkan sinar matahari kembali ke atmosfer. Kumisnya yang tebal memberikan kesan tegas di usianya yang melewati 60 tahun. Tubuhnya besar, sama seperti tubuh mereka berdua, perut buncit, dan kulit kendor dan keriput.
Mereka takut nanti Pak RT akan melaporkannya dan memberitahu seluruh warga di desa.
"Maaf, Pak," Pak Sapto buru-buru meminta maaf atas apa yang Pak RT lihat.
"Saya cuma check kebun aja. Tadi saya lihat di tempat Pak Alwi ndak ada orang jadi saya berjalan ke sini," jawab Pak RT tenang.
"Mriki Pak (ke sini Pak), di situ panas," Pak Alwi menawarkan Pak RT berteduh di gubuk. Pak RT segera mendekati mereka dan duduk. Pak Sapto dan Pak Alwi menjauh dan Pak RT duduk lesehan di antara mereka.
"Sekali lagi, maaf Pak," Pak Alwi mengulangi permintaan maaf temannya kepada Pak RT. Beberapa saat keheningan meliputi gubuk itu, disertai perasaan takut dan khawatir dua pria baya yang habis bermesraan.
"Sebenarnya," Pak RT memecah keheningan, angin mulai berhembus pelan, namun masih menyisakan udara panas siang itu. Mereka berdua mendengarkan Pak RT dengan perasaan cemas.
"Saya sering datang ke sini," lanjut Pak RT, "biasanya sore hari, tapi di sini sering tidak ada orang padahal peralatan masih di gubuk," ia berhenti sejenak.
"Akhirnya saya check ke arah sungai," lanjutnya sambil menoleh ke mereka berdua.
"Maaf Pak," ulang Pak Sapto. Mereka berdua semakin cemas, keringat menetes membasahi tubuh mereka karena panik.
"Nggak apa-apa," jawab Pak RT sambil menepuk paha pak Sapto. "Saya juga beberapa lihat panjenengan-panjenengan (anda-anda), tapi saya ndak mau ganggu."
"Saya menikmati saja dari kejauhan," lanjutnya. Ia memegang bagian risleting celananya. "Tapi hari ini saya bisa lihat dari dekat," ia sedikit meremas celananya.
Mereka berdua masih diam. Ragu harus menjawab apa, sedikit lega karena pak RT tidak marah tapi masih cemas apa beliau akan memberitahu aparat desa tentang perbuatan mereka.
"Saya juga sama seperti Pak Sapto dan Pak Alwi," lanjut pak RT. Mereka berdua kaget. Karena pak RT juga sudah memiliki cucu sama seperti mereka berdua.
"Tenang saja. Ini cuma kita bertiga yang tahu," lanjutnya.
"Terima kasih, Pak." Balas Pak Sapto memegang tangan pak RT yang masih di atas pahanya. Pak RT mengusap paha Pak Sapto, kemudian menoleh ke arah Pak Alwi. Seakan mengerti, Pak Alwi menawarkan, "Di sini aja dulu, Pak. Nunggu matahari agak rendah baru pulang," yang disambut anggukan Pak RT sambil masih mengusap paha Pak Sapto, kali ini sedikit naik ke pangkal paha.
Pak Sapto meresponnya dengan perlahan mengarahkan tangan pak RT ke balik celana pendeknya, masuk hingga pangkal pahanya. Pak RT menemukan milik Pak Sapto yang mulai membesar.
Pak Alwi mendekat ke arah pak RT dan meraba celananya. Pak RT menoleh, dan membuka risleting celananya, tanpa tahu melepasnya sehingga tinggal kaos polo saja yang ia kenakan. Terlihat milik pak RT yang berdiri tegak dibalik rimbunnya rambut kemaluan yang berwana hitam bercampur abu-abu putih. Khas usia 60-an.
Pak RT menoleh ke Pak Sapto, dan disambut ciuman, pelan penuh keraguan.
"Saya bisa rajin ke kebun kalo seperti ini," kata Pak RT, "Percaya, Pak. Ini di antara kita bertiga saja," lanjutnya.
Setelah mendengar itu, mereka berdua jadi tenang dan tipis keraguan kepadanya. Pak Sapto melanjutkan ciumannya sementara Pak Alwi memberikan kehangatan milik pak RT di mulutnya.
Pak Sapto menjulurkan lidahnya, bersambut dengan mulut pak RT yang bisa mengimbangi. Pak Sapto mencoba membuka kaos polo Pak RT. Namun karena ada kancingnya jadi sedikit kerepotan. Akhirnya Pak RT membuka sendiri bajunya, begitu juga pak Sapto dengan celananya.
Kini mereka berdua yang telanjang bulat melanjutkan ciuman. Pak RT meraba dada Pak Sapto, memainkan puting dengan jempolnya. Sesekali terdengar desahan samar dari Pak Sapto ketika putingnya dipilin. Kumis hitam Pak Sapto serta aroma kopi membuat pak RT semakin terbawa dalam hasrat di tengah teriknya siang itu.
Pak Alwi memainkan lidahnya di ujung milik Pak RT sambil mengocoknya. Cukup mengejutkan karena di usianya yang berkepala 6, milik Pak RT masih keras. Ia memainkan ujung lidahnya di lubang saluran cairan kenikmatan keluar.
Mengetahui kedua rekannya sudah telanjang, ia segera melepaskan bajunya. Kini mereka bertiga telanjang di gubuk itu. Pak RT telentang dengan Pak Sapto dan Pak Alwi mengamati di samping kanan-kirinya.
Tubuh pak RT mulus, sedikit sekali rambut-rambut halus menutupi tubuhnya. Dadanya berisi namun kulitnya keriput dan kendur, serta perutnya yang buncit. Kepalanya yang botak memberikan kesan seksi tersendiri. Ada rimbunan di bawah sana, dengan dominasi rambut putih menutupi miliknya.
Mereka berdua segera menciumi dada pak RT, masing-masing memainkan lidah mereka di putingnya. Menghisap, menggigit dan menjilatinya. Pak RT tak kuat menahan sensasi yang diberikan. Getaran seakan mengalir dari sentuhan kumis dan hangatnya mulut yang mengenyot dadanya yang keriput. Getaran itu seakan menjalar ke pinggang, tangan, kaki dan ubun-ubun. Ia mendesah keras sambil menggeliat, sementara miliknya sudah dalam genggaman entah tangan siapa, bergerak naik turun, mencoba memompa keluar kehangatan yang ada di dalamnya.
"Pak é...nggak kuat pak é...," erangnya dengan mata terpejam. "Jangan dulu pak...," imbuhnya.
Mendengar hal itu, Pak Alwi bergerak ke atas, memosisikan tubuhnya sehingga kelelakian yang sudah keras menghadap wajah pak RT. Segera miliknya disambut mulut pak RT, siap dimanjakan lidah dan rongga mulutnya.
Pak Sapto berdiri di depan Pak Alwi, menyuguhkan miliknya di mulut rekannya itu untuk dimanjakan. Ia sedikit membungkuk karena gubuk itu tidaklah beratap tinggi. Jadilah tiga pria baya dengan perut buncit itu menemukan posisi untuk saling memanjakan. Pak Septo berdiri dengan miliknya yang disambut mulut Pak Alwi, yang duduk menyuguhkan miliknya ke pak RT yang masih terlentang sambil menaik-turunkan gerakan tangan di batang lelaki miliknya yang mengeras.
Pak Sapto memilin kedua putingnya sambil menikmati hisapan mulut Pak Alwi ke miliknya. Setelah itu, ia berlutut, menyejajarkan posisinya dengan rekannya itu. Mereka berciuman dengan panas, dan milik keduanya disambut mulut pak RT di bawah mereka. Aroma khas lelaki merebak saat pak RT menjilati milik kedua petani itu.
Ciuman panas masih berlanjut antara Pak Sapto dan Pak Alwi. Leher mereka mengkilat, basah oleh keringat. Pak Alwi menjilati keringat di leher rekannya itu. Asin tapi menggairahkan.
"Pak Sapto...," katanya sambil menyisipkan tangannya ke balik lengan Pak Sapto. Mengerti akan permintaan itu, Pak Sapto membuka lengannya, membiarkan Pak Alwi melahap ketiaknya yang rimbun.
"Ah...enak Pak," desahnya.
Ketiak Pak Sapto yang lebat dan basah seakan katalisator untuk menaikkan gairah menuju kenikmatan. Ia menjilatinya seperti kucing menjilati badannya. Sesekali ia menghisapnya, merasakan aroma lelaki dan keringat seakan itu adalah obat mujarab. Pak Sapto mengerang dan miliknya sedikit berdenyut, melepaskan sedikit cairan bening di mulut pak RT.
"Keluarin di mana Pak?" tanyanya sambil mencoba mengontrol nafas yang semakin cepat karena birahi.
"Wajah," jawab Pak Alwi singkat. Ia segera mengakhiri serangannya di ketiak lebat itu.
Pak Sapto kembali berdiri, dengan Pak Alwi menghadapkan wajahnya ke atas, ke arahnya. Pak Sapto memukul-mukulkan batang kerasnya di wajah Pak Alwi dan disambut hisapan hangat mulutnya. Ia memilin-milin putingnya sementara Pak Alwi menggerakkan miliknya keluar-masuk mulutnya.
Pak Sapto mengambil-alih dan memainkan dengan tangannya. Melihat Pak Alwi menatapnya dengan mulut terbuka, ia semakin bergairah dan semakin mendekati puncak kenikmatan. Tak lama setelah itu, ia tak dapat menahan lagi.
"Aahhh...!" Ia mengerang saat menumpahkan kenikmatan di atas wajah Pak Alwi. Seketika wajah Pak Alwi basah oleh cairan kental putih Pak Sapto.
Mereka kembali berciuman, dengan wajah lengket karena cairan kenikmatan. Pak RT segera menjilati cairan kenikmatan Pak Sapto yang masih menetes, memberikan sensasi geli luar biasa setelah puas melepas gairah.
"Susu...," bisik Pak Sapto kepada Pak Alwi. Segera ia mengenyot puting Pak Alwi dengan penuh gairah, sambil tangannya meremas dada satunya. Pak RT merasakan milik Pak Septo perlahan kembali mengeras. Ia menjilati sepasang bola yang terbungkus di bawah batangnya yang tegang.
Pak Septo menggigit puting yang membuat Pak Alwi mengerang keras berkali-kali. Remasan di dadanya menambah getaran kepuasan. Perlahan Pak Alwi memainkan miliknya, menekan pangkal kejantanannya.
Pak Sapto memainkan lidahnya dengan lihai. Hisapan, gigitan, dan kenyotannya membuat Pak Alwi tak bisa mengendalikan lagi. Sambil mengocok pelan, dibantu oleh sentuhan lidah dan kumis pak RT, serta dimanjakan oleh Pak Sapto, akhirnya ia mencapainya.
"Pak Sapto...Pak...ah...ah...," Ia memuntahkannya di mulut pak RT. Pak Septo masih melanjutkan permainan di putingnya sebelum akhirnya mereka kembali berciuman.
Mereka kembali ke posisi awal, di samping pak RT. Bergantian mereka mencium rekan barunya itu. Saling berbagi cairan kenikmatan, bercampur aroma kopi dan nafsu membuncah.
Mereka bergerak turun, menciumi leher pak RT yang keriput, dan lanjut mengenyot dada pria baya itu. Erangan keluar dari mulut pak RT, tak tahan dengan hisapan di kedua putingnya. Ia menekan kedua kepala petani itu untuk semakin dalam mengenyot putingnya, merasakan getaran akibat sentuhan kumis di dadanya. Dan benar saja, ia semakin mengerang nikmat. Ditambah Pak Alwi memainkan tangan di kejantanannya.
"Ah...oh...oh...," Pak RT sudah tidak tahan lagi. Sesaat setelah itu ia melepaskannya. Membasahi perut buncitnya, dan menetes ke tangan Pak Alwi.
Pak Septo menciumi kepala botak pak RT sambil memainkan miliknya. Ia menggunakan cairan kenikmatan yang masih hangat itu sebagi pelicin. Ia menciuminya dan kembali menaikkan gairahnya. Melihat rekannya bergairah, Pak Alwi melakukan hal yang sama, kali ini ia menjilati ketiak mulus pak RT. Mereka memainkan miliknya masing-masing sampai akhirnya,
"Bareng Pak dikit lagi...," kata Pak Septo
"Pak é...," jawab Pak Alwi, diakhiri dengan desahan.
"Ah...ah...Pak Septo,"
"Dikit lagi...ah...pak...ah...aaahhh...,"
Keduanya mencapai kepuasan untuk kedua kalinya siang itu. Mereka telentang di samping pak RT. Berciuman, bergantian. Pak RT mendekap keduanya. Tangan kedua petani itu mendekap, menutupi milik pak RT sementara mereka menikmati dekapan pemimpin rukun tetangga itu, hingga mereka tertidur pulas siang itu dengan bulir-bulir keringat dan denyutan gairah masih terasa di seluruh bagian tubuh mereka.
Angin siang itu berhembus perlahan, seakan mengerti bahwa setiap desahan kenikmatan tidak akan terbawa oleh mereka dan terdengar di luar gubuk itu.