Sentuhan Menjelang Senja Part 1
Sebulan lagi jagung siap dipanen. Sekarang sudah tumbuh tinggi dan jagungnya sudah semakin besar. Pak Sapto seperti biasa bekerja di kebun setiap pagi, kadang siang menjelang Dzuhur pulang ke rumah, kadang juga pulang sore, dengan membawa bekal makan siang. Ini karena jarak kebun yang cukup jauh dari perkampungan.
Tanah yang luas di pinggir jalan itu terbagi oleh kepemilikan para warga desa. Ada yang ditanami jagung, sayur-sayuran dan umbi-umbian. Terdapat turunan menuju sungai yang dinaungi pepohonan seperti kayu-kayuan, kelapa, bambu dan pisang yang tumbuh secara terus-menerus. Pondok peristirahatan berdiri di pinggir sebelum jalan turunan menuju sungai, sehingga ketika bersantai di gubuk bisa menikmati pemandangan air mengalir di bawah, meskipun banyak bagian yang tertutup rimbunnya pepohonan di pinggir sungai.
Pak Sapto harus melewati beberapa lahan milik warga lainnya sebelum sampai ke kebun miliknya. Ada kebun pak RT yang jarang dikunjungi sehingga penuh dengan tanaman liar dan kebun Pak Alwi, sebelum akhirnya sampai di kebunnya.
Sore itu Pak Sapto sedang membersihkan lahan dari rumput dan tanaman liar yang bisa menghambat pertumbuhan tanaman. Entah karena sudah lama atau hal yang lain, gagang sabit tiba-tiba patah, jadi ia memutuskan untuk datang ke gubuk di kebun Pak Alwi untuk meminjam sabit. Tidak ada orang di gubuk, tapi barang-barang masih ada. Ia turun ke sungai, barangkali Pak Alwi ada di sana.
Pak Alwi berumur sekitar 55 tahun, sama dengan dirinya. Mereka berdua sama-sama telah berkeluarga dan sudah memiliki cucu. Kadang mereka mengobrol entah di gubuk siapa untuk membicarakan masalah kebun, harga panen, kegiatan di kampung, dan lain-lain. Mungkin karena ya tidak ada orang lain selama di kebun yang bisa diajak ngobrol. Dan di kampung pun juga jarang karena mereka beda RW.
Ketika menuruni lereng, terlihat Pak Alwi sedang berada di sungai. Sungainya jernih walaupun kecil, dan banyak batu, bebeapa batu besar. Dilihatnya Pak Alwi sedang membasuh muka dan badannya. Pak Sapto berhenti melangkah dan mengamatinya di balik semak di lereng.
Dilihatnya tubuh Pak Alwi yang hanya tertutup celana dalam berwarna cokelat tipis karena saking lamanya terlalu sering dipakai. Perut buncitnya terkena matahari sore dan rambut-rambut halus di dadanya terlihat berkilau keputihan di kulitnya yang cokelat. Dadanya dan lengan yang kendur khas bapak-bapak 50 tahunan, dan janggut serta kumis yang masih tumbuh meskipun bercampur warna putih dan hitam.
Pak Sapto melihat tonjolan di balik celana dalam cokelat Pak Alwi yang masih biasa. Pak Alwi membukanya dan memegang miliknya untuk kencing. Saat itulah Pak Sapto tiba-tiba terpeleset turun ke tepi sungai.
Pak Alwi sedang memosisikan miliknya untuk buang air kecil ketika terdengar sesuatu terperosok ke bawah. Ternyata Pak Sapto, tepat berada di tepi sungai di samping ia sedang mandi. Pak Sapto mengenakan kaos tipis dengan tulisan merek cat tembok di bagian depannya. Terlihat badannya yang berisi, sama seperti miliknya, hanya saja kumis Pak Sapto masih lebih dominan warna hitam daripada miliknya. Ia memakai celana pendek yang longgar dan sepatu boot karet berwarna hitam.
"Hati-hati, Pak. Licin. Habis hujan tadi malam," kata Pak Alwi, segera menghampiri ke tepi sungai setelah urusan kencing selesai. Ia membantu Pak Sapto bangun dengan mengulurkan tangan dan menariknya.
Saat Pak Alwi mengulurkan tangannya, terlihat ketiak lebarnya dan rambut-rambut hitam putihnya yang memenuhi dada dan perut buncitnya. Dan celana dalamnya yang tidak bisa menutupi sebagian rambut di bawah perutnya. Pak Sapto mencoba untuk mengabaikannya dan meraih tangan Pak Alwi agar ia bisa bangkit. Punggungnya penuh tanah dan rumput, serta salah satu sikunya ada yang sedikit tergores akibat gesekan saat ia terpeleset tadi.
"Gak popo (gak apa-apa), Pak?" Tanya Pak Alwi.
"Gak. Tapi ya kotor semua," jawab Pak Sapto dan langsung mengatakan niatnya untuk meminjam sabit.
"Iya ambil aja di gubuk," Pak Alwi kembali ke sungai sambil melepaskan celana dalamnya. Pak Sapto tidak menjawab, tapi memperhatikan teman kebunnya itu.
Pantat Pak Alwi yang berisi namun kendur, paha dan miliknya yang masih tertidur di balik lebatnya rambut membuat Pak Sapto menelan ludah. Namun seketika ia sadar, "iya," balasnya singkat dan kembali ke atas untuk melanjutkan pekerjaannya.
Hari semakin sore maka Pak Sapto berhenti dan mengembalikan sabit. Pak Alwi sedang mengumpulkan sayuran dalam ikatan-ikatan sedang saat Pak Sapto datang. Setelah itu ia mau turun ke sungai untuk membersihkan badan dari sisa-sisa tanah saat tadi terpeleset.
"Sekalian Pak saya juga mau cuci ini," jawab Pak Alwi sambil membawa ikatan-ikatan sayur yang baru dicabut namun akarnya masih dipenuhi tanah.
"Oh, sini Pak é tak bantu kalo gitu," tawar Pak Sapto. Mereka turun bersama-sama dengan sayur-sayuran di kedua tangan mereka. Setelah sampai sungai, Pak Sapto duduk sebentar dan melepaskan kaosnya.
"Tambah lemu (makin gemuk) Pak," kata Pak Alwi, mencuci akar-akar sayuran. Dilihatnya badan Pak Sapto yang berkulit cokelat, dengan dada dan perut buncit, sedikit banyak hampir sama dengan tubuhnya. Puting dan ketiak Pak Sapto yang lebat oleh rambut-rambut hitam juga tak lepas dari pandangannya.
"Podho aé (sama saja) Pak," jawab Pak Sapto. Ia segera melepas sepatu bootnya dan celana pendeknya, hanya menyisakan celana dalam hitamnya. Ia membawa kaosnya dan menuju ke sungai, melewati Pak Alwi.
"Ados dhisék (mandi dulu) Pak," Pak Sapto sudah di tengah sungai kecil itu, di samping batu besar. Ia menaruh celana dalamnya di atas batu landai itu dan mulai mencuci kaos yang penuh dengan tanah di bagian punggungnya.
Pak Alwi sesekali memperhatikan tubuh lawannya yang sekarang terlihat seluruhnya. Pak Sapto duduk sambil membersihkan kaos, menguceknya seakan-akan habis direndam larutan deterjen. Terlihat di antara kedua pahanya, dibalik rambut lebat di bawah perutnya, sesuatu bergerak mengikuti gerakan tubuh Pak Sapto.
"Ehm," Pak Alwi berdehem, menyembunyikan kekaguman. Setelah mencuci sayuran, ia segera melepas pakaian dan sepatu boot karetnya dan menuju ke tengah sungai tempat Pak Sapto mandi dengan hanya bercelana dalam.
"Kotor sekali tadi?" Pak Alwi mendekat ke tangah sungai.
"Lumayan. Sampai ireng kabèh," balas Pak Sapto, menaruh kaosnya di atas batu.
Pak Alwi melepas celana dalamnya menaruhnya di atas batu. Mereka mulai mandi. Sesekali Pak Alwi memperhatikan milik Pak Sapto yang mulai terlihat membesar.
"Mantap Pak é," kata Pak Alwi, merujuk ke milik Pak Sapto.
"Podho aé (sama saja) Pak," jawab Pak Sapto, merujuk ke milik Pak Alwi yang juga tampak dengan latar belakang rambut lebat hitam bercampur putihnya.
Mengetahui punya mereka sama-sama bereaksi, Pak Alwi mendekati Pak Sapto, mencoba memulai pembicaraan untuk mengalihkan perhatian mereka. Mereka berjejer namun dekat hingga lengan mereka bersentuhan.
"Wés soré iki (Sudah sore ini)," kata Pak Alwi. Tidak ada jawaban dari Pak Sapto. Namun terlihat miliknya sekarang telah berdiri, tegang dan keras.
"Nuwun sèwu (permisi)," lanjut Pak Alwi bilang permisi kepada Pak Sapto, saat ia tiba-tiba memegang milik kawannya itu.
Pak Sapto terkejut, namun membiarkannya. Pak Alwi mengusap-usapnya, perlahan. Ia terdiam, menikmati sentuhan Pak Alwi. Suara aliran sungai, matahari sore yang menembus pepohonan serta suara serangga sore hari menjadi saksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Sapto akhirnya menarik Pak Alwi. Ia memegang wajah kawannya dengan kedua tangannya, menariknya, mengarahkannya ke wajahnya yang berakhir dengan ciuman hangat.
Mereka merasakan kedua bibir mereka bersentuhan dan mulut mulai beradu lidah. Pak Sapto merasakan kumis lebat hitamnya bertemu dengan kumis hitam lebat bercampur uban milik Pak Alwi. Bibir mereka yang berwarna cokelat bertarung dibalik lebatnya kumis.
Pak Sapto menjulurkan lidahnya dan disambut oleh jilatan Pak Alwi. Ia menggigit bibir atas Pak Alwi, dan berbalas juluran lidah yang beradu. Sambil mulut terus beradu, tangan mereka saling menjelajahi. Pak Sapto membelai perut Pak Alwi yang ditutupi rambut tipis kemudian menggesek-gesekkan jempol ke putingnya.
Pak Alwi menikmati permainan itu sambil terus menjilati bibir kawannya. Ia menciumi janggut Pak Sapto yang tertutup rambut tipis sambil tangan meremas lengannya.
Ia bergerak turun dan sampai di dada Pak Sapto. Ia menempely bibirnya dan menggesekkan kumisnya ke puting Pak Sapto.
"Oh...," desahan Pak Sapto memecah keheningan menjelang senja itu.
Pak Alwi menjilati puting dan menghisapnya seperti bayi dengan dotnya. Tangannya meremas dada satunya, sesekali memilin putingnya. Pak Sapto menekan kepala Pak Alwi ke dadanya, dan sensasi hisapan yang luar biasa ia rasakan. Pak Alwi melanjutkan ke ketiak lebatnya. Ia membenamkan wajahnya dan menjilati setiap senti lebatnya ketiak Pak Sapto.
"Pak é...,"suara berat yang tidak terkendali terdengar dari mulut Pak Sapto. Ia merasakan ketiaknya basah oleh jilatan, juga sensasi gigitan. Ia memainkan miliknya, maju-mundur dalam genggaman.
Setelah puas, ia memeluk Pak Sapto dari belakang. Dua pria 50 tahunan, dengan satu memeluk dari belakang. Perut buncit Pak Alwi menempel punggung Pak Sapto, dan tangannya membelai dan meremas dada pria sejawatnya itu. Tak lupa ia juga menciumi punggung Pak Sapto, sementara miliknya yang di bawah mencari kehangatan di balik lipatan pantat temannya itu.
"Gak dimasukin. Tenang aé," Pak Alwi berbisik, disambut goyangan pinggul Pak Sapto.
Milik Pak Alwi berada di lipatan pantat Pak Sapto, merasakan rambut-rambut yang menyembunyikan lubang kenikmatan rahasia. Ia menggesekkan miliknya, naik-turun perlahan sambil terus membelai tubuh Pak Sapto. Sedang Pak Sapto mendesah semakin keras dan memainkan miliknya.
"Di batu aja Pak é," pinta Pak Sapto. Akhirnya mereka ke atas batu besar di sebelahnya. Batunya tidak terlalu besar namun memiliki permukaan yang datar. Pak Alwi telentang di atas batu, ditindih oleh Pak Sapto.
Mereka beradu lidah lagi, "Kumismu enak, Pak Sapto," puji Pak Alwi dan mereka terus berciuman. Pak Alwi membuka kedua lengannya, menjadikan kedua telapak tangannya sebagai alas kepala dengan ganjalan kaos Pak Sapto di antara telapak tangan dan batu sandaran.
Saat itu juga terlihat ketiaknya yang tak kalah lebat dari milik Pak Sapto. Aroma khas pria merebak, bercampur udara sore dan bau lumut-lumutan yang tumbuh di bebatuan.
Tak menyia-nyiakan waktu, segera lidah Pak Sapto menjilati ketiak lebat Pak Alwi. Ia menjilati mulai bagian dalam lengan atas hingga sisi dada Pak Alwi. Kadang ia menggigit, menghisap aroma dan sari kenikmatan dan menggesekkan kumisnya.
Pak Alwi menggeliat keenakan saat Pak Sapto menghisap putingnya. Gesekan kumis kakunya memberikan kejutan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Ah...," desahnya.
Pak Sapto bergerak ke perut, menjilatinya, merasakan rambut halus yang sebagian berwarna putih. Ia menjilati pusat Pak Alwi dan turun ke bagian kelelakiannya. Aroma khas pria tercium, Pak Sapto menghirupnya dan itu semakin menaikkan gairahnya.
Ia memasukkan milik Pak Alwi, memberi kehangatan di dalam mulutnya. Milik Pak Alwi sedikit bengkok, namun cukup memuaskan, bahkan untuk mereka yang telah berusia setengah abad, milik Pak Alwi masih sangat keras dan menantang.
Ia memberikan kenikmatan dari ujung hingga pangkal. Ia mencoba memasukkan semuanya, menghangatkannya, seringkali ia terdesak.
"Enak iku Pak...ah...," pak Alwi melenguh saat miliknya seluruhnya berada di mulut Pak Sapto. Ia menggerakkan pinggulnya naik-turun mencoba membenamkan kelelakiannya di mulut Pak Sapto.
Sensasi luar biasa datang saat Pak Sapto memainkan tangannya. Ia menekan pangkal kenikmatan sehingga seakan-akan menarik kelelakian Pak Alwi. Tampak setelah Pak Sapto menekan pangkal selangkangan Pak Alwi, kelelakian kawan kebunnya itu semakin terlihat panjang dan berurat. Sedangkan Pak Alwi merasakan sensasi ditarik namun sangat sensual di bagian vitalnya.
Ini ditambah saat Pak Sapto menjilati bagian ujungnya yang seperti helm tentara dan memainkan lidahnya di lubang saluran kehangatan miliknya.
"Terusno (teruskan), Pak..." Pak Alwi menggeliat, tangannya meremas dan memelintir putingnya sendiri untuk menambah kenikmatan.
Pak Sapto menghisapnya, menggerakkan wajahnya naik-turun. Sesekali ia memainkan dua biji kawannya itu, tak luput dari ciuman, jilatan dan Pak Sapto memasukkan keduanya ke dalam mulutnya. Lendir menetes keluar dari mulutnya yang telah penuh oleh milik Pak Alwi.
Ia mempercepat ritme permainan. Semakin kuat hisapan dan permainan lidahnya. Ia menaik-turunkan wajahnya, sambil menekan pangkal tongkat Pak Alwi.
"Pak...,"erang Pak Alwi yang menekan wajah Pak Sapto ke arah miliknya.
Pak Sapto sudah larut dalam gairah, ia terus menjilati dan memasukkannya ke dalam mulut dengan gerakan yang semakin cepat. Gesekan kumis semakin mendekatkan Pak Alwi ke puncak kenikmatan. Ia mulai merasakan rasa asin yang kuat di dalam mulutnya. Ia mempercepat gerakannya dan sesekali menghisapnya dengan kuat. Hingga akhirnya,
"Pak Sapt...oh...oh...," Pak Alwi mengerang dengan lantang sore itu, membelah kesunyian sungai. Kenikmatan ia muntahkan dan mengisi rongga mulut Pak Sapto. Ia menggeliat keenakan. Pak Sapto merasakan cairan kehangatan, asin dan anyir, tapi sangat merangsang. Sebagian meluber keluar mulut saat ia tak sanggup menelannya.
Ia menjilati ujung milik Pak Alwi dan itu membuatnya kelojotan. Ia bergerak naik, di samping Pak Alwi yang masih terlentang puas. Ia memberikan dadanya untuk dimainkan oleh Pak Alwi.
Pak Alwi menciumi puting Pak Sapto, menjilatinya. Pak Sapto memainkan miliknya dengan tangannya. Ia menggunakan sisa cairan untuk melicinkan. Ia bergetar oleh gairah saat Pak Alwi menghisap putingnya dengan kuat dan menggigitnya. Ia mempercepat gerakan tangannya.
"Iyo, koyok ngono, Pak (Iya, kayak gitu, Pak)," katanya sambil terus memaju-mundurkan genggaman memainkan tongkat lelaki miliknya. Kumis Pak Alwi yang bersentuhan dengan dadanya membuatnya hanyut dalam arus gairah yang tak terbendung.
"Bentar lagi, Pak," katanya sambil menikmati hisapan Pak Alwi. Ia mempercepat gerakannya. Maju, mundur, menekan, menarik. Sampai akhirnya ia tak mampu menahannya.
"Pak Al....ah...ahhh...ahhhh!" desahan panjang menyertai saat ia mengeluarkannya, membasahi perut buncit Pak Alwi yang berada di sampingnya.
Hisapan Pak Alwi terasa geli setelah ia mencapai puncak. Ia meratakan cairan kenikmatan ke perut buncit Pak Alwi.
"Mené manèh (besok lagi)," Pak Sapto meminta.
"Saben dino yo gak popo (tiap hari juga nggak apa-apa)," permintaan dikabulkan oleh Pak Alwi.
Kedua pria baya itu berciuman. Suara jangkrik dan serangga lainnya mulai mengisi sore itu. Tanda kehangatan mentari akan berganti dengan dinginnya angin malam. Namun, kehangatan antara mereka berdua tak akan sirna oleh dinginnya malam.