Romansa Kolam Asoka (part 1)

Sore itu kolam renang Asoka lumayan ramai pengunjung. Ada segerombolan remaja SMP yang hanya bermain air dan lebih banyak berdiam diri sambil foto-foto, ada keluarga yang menghabiskan waktu di pondok kecil agak jauh dari kolam, dan ada orangtua yang mengajari anaknya berenang. Aku sendiri di sini untuk berenang karena sudah lama sekali tidak berenang.


Satu demi satu kubuka baju dan hanya tersisa boxer, sebelum akhirnya aku menceburkan diri ke air. Segar sekali. Aku berenang dari ujung ke ujung, seakan membalas rinduku karena sudah lama tidak berenang. Aku bukan perenang profesional tapi berenang untuk menjaga kesehatan. Tak terasa tiga kali sudah aku bolak balik dari ujung ke ujung. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar. Aku naik ke tepian kolam dan berdiam di sana sambil melihat-lihat pengunjung lainnya.

"Ayo. Sedikit lagi sampai," seorang lelaki mencoba menyemangati anaknya yang berumur 3 tahun yang menggunakan rompi pelampung bergambar Winnie the Pooh. Akhirnya si anak bisa sampai dan segera dipeluk oleh sang ayah. Aku tersenyum melihat mereka, dan si ayah tersenyum padaku.

Lelaki itu mendekat ke tepian sambil menggendong anaknya. 

"Istirahat ya," ujarnya sabar dan penuh perhatian kepada sang anak. 

Mereka duduk tak jauh dariku. Tatapan kami berpapasan, dan kami saling menebar senyum. 

"Sudah berapa kali putaran tadi?" Tanya bapak itu. Rupanya beliau memperhatikanku tadi.

"Tiga. Habis istirahat ini mau lanjut lagi," jawabku.

Si anak tiba-tiba lari berkeliling kolam. 

"Hati-hati licin," teriak sang ayah. Tapi si anak tidak begitu mempedulikan, atau mungkin bahkan tidak mendengar karena suara percikan air dan para pengunjung lain. 

Ia mendekat. Sekarang kami bersebelahan. Ia menyimpulkan senyum tipis sambil bertanya,"sendirian aja?"

"Yup," jawabku singkat. "Mmm...," aku bergumam ingin bertanya sesuatu tapi ia tiba-tiba berkata,"itu ponakan saya. Kebetulan tadi pas mau ke sini dia mau ikut. Ya sudah." 

"Oh," responku singkat sambil menatapnya sekali. Dan pastinya aku bisa melihatnya dengan jelas karena kami bersebelahan. Ia mengenakan celana pendek biru dongker, dan dibaliknya bisa terlihat celana dalamnya yang berbentuk segitiga karena basah. Ia berisi namun tidak kekar, perutnya gendut. Dadanya berbulu halus, dengan putingnya yang berwarna cokelat dan ditutupi rambut-rambut halus. Kulitnya sedikit gelap dan wajahnya ditumbuhi rambut halus di pipi, dan membentuk kumis dan jenggot yang menarik. 

"Sering ke sini?" Ia bertanya sambil menatap wajahku.

"Sudah lama tidak ke sini sebenarnya," jawabku. "Kangen renang," aku melanjutkan. 

"Kalau...," Aku bingung harus panggil dia om atau bapak, tapi ia segera membalas "Pak Pardan" jadi kulanjutkan saja dengan memanggil namanya itu.

"Seminggu sekali. Biasanya sore-sore gini," jawabnya.

"Jadi kalau libur ke sini?" Lanjutnya sambil sesekali kami saling menatap.

Melihat tubuhnya yang berisi, ditambah rambut-rambut halus membuatku terangsang. Tanpa sadar boxerku mengembang. Rupanya ia menyadari hal itu. Aku segera menutupinya dengan handuk di dekatku. Ia tersenyum. 

"Permisi. Mau ke kamar mandi," ujarku sambil segera berdiri dan menjauh.

Kamar mandinya cukup jauh. Aku harus mendaki tangga dan berbelok karena letaknya di pojok. Ada beberapa remaja SMP yang sepertinya baru selesai mandi dan ganti baju sambil jalan kembali ke arah kolam renang. Aku segera masuk ke salah satu bilik dan menuntaskannya di sana. 

Saat aku buka pintu, di sana terdapat beberapa pengunjung termasuk Pak Pardan dan keponakannya. Aku terkejut namun tetap berusaha tenang seakan kejadian di dalam bilik saat aku membayangkan tubuh seksinya sambil memainkan milikku tidak pernah terjadi. 

"Boleh jagain dia sebentar?" Ia meminta bantuan ku untuk menjaga keponakannya karena ia ingin kencing. Setelah selesai, ia meraih keponakannya dan bersiap kembali ke kolam renang. Namun sebelum itu, ia bertanya apakah minggu depan atau mungkin Selasa besok aku akan ke sini lagi? Karena Selasa ia mungkin ke sini sendiri. Aku jawab akan kuusahakan. 

"Baik. Selasa. Jam yang sama," ujarnya sambil berlalu.

Hari yang ditunggu pun tiba.  Selasa sore aku sudah di sana. Berbeda dengan saat akhir pekan, kolam renang ini sepi saat hari-hari biasa. Hanya ada bebeapa orang, itupun juga tidak lama. Rupanya Pak Pardan sudah berada di kolam renang. Aku segera menyusul.

Karena sepi, aku bisa lebih leluasa berenang. Kami berenang sambil mengobrol tentang banyak hal. Ternyata ia berumur 48 tahun, dan belum menikah. Sepanjang percakapan sesekali ia mencoba mendekat kepadaku. Tak terasa sore semakin larut, dan hanya ada kami berdua serta satu orang  bapak-bapak yang sepertinya siap-siap untuk pulang. Pak Pardan mendekatkan diri dan aku bisa dengan jelas melihat tubuhnya yang dipenuhi rambut halus. Reflek aku menyentuh dadanya. Mata kami bertatapan. Ia mengarahkan tanganku ke bawah, ke celana dalamnya dan merasakan tonjolan kecil di dalam air.

"Ayo," ajaknya. 

Kami menuju kamar mandi, tapi dalam perjalanan Pak Pardan tiba-tiba menuntunku ke arah samping kamar mandi yang tertutup tanaman pagar. Di sana aku berdiri menyandar tembok kamar mandi dan seketika kami berciuman. 

Kumisnya yang tebal, dan jenggotnya seakan menghipnotisku untuk tidak melepaskan pagutan bibirnya. Tubuh kami masih basah, apalagi di bagian bawah. Pak Pardan mengusap lenganku, kemudia meremasnya dengan kencang, sekencang pagutan bibirnya. Boxerku menggembung, nafasku mulai terengah larut dalam gairah. 

Kami masih berciuman di samping tembok kamar mandi itu, Pak Pardan mengangkat kedua lengannya, memamerkan ketiaknya yang lebat dan menggoda. Kurasakan kepala penisku menyembul keluar boxer. Ada sedikit cairan keluar dari sana. Tercium aroma deodoran bercampur keringat dari ketiak Pak Pardan. Nikmat sekali. Ditambah lagi dengan sensasi basah air kolam renang yang membasahi lebatnya ketiak bapak itu. 

Aku melepaskan bibirku dari pagutannya dan mendesah. Ia lantas menciumi leherku dan aku menyandarkan wajahku ke bahunya. Ku raba dadanya, dan ku sentuh putingnya. 

"Ah...," dia merasakan kenikmatan.

Ku arahkan jemariku ke ketiaknya. Ia semakin mendesah saat kuraba dan sedikit kutarik rambut-rambut lebat itu. Ia membalikkan posisinya sehingga sekarang ia lah yang bersandar ke tembok. Ku buka kedua lengannya dan seketika kubenamkan wajahku ke ketiaknya. 

Aroma deodoran yang mulai luntur karena air, lebatnya ketiak Pak Pardan dan sensasi gesekan ketiaknya dengan wajahku membuatku semakin bergairah. Pak Pardan menggapai boxerku dan mengeluarkan apa yang memberontak dari dalam sana. Aku masih menikmati ketiaknya, menciumnya, menjilatinya, menghisapnya seakan ingin mendapatkan saripati gairah Pak Pardan. 

"Yeah...enak banget," erangnya.

Kami berdua seperti larut dalam gairah sampai-sampai kami tidak menyadari ada seseorang yang melihat aksi kami. Kami terkejut. Ternyata bapak-bapak terakhir di kolam renang tadi belum pulang.

"Maaf," aku mencoba meminta maaf kepadanya karena perbuatan kami.

"Tadi saya ke kamar mandi. Dan dengar suara, jadi saya cek sumbernya," jawabnya tenang. Bapak ini umurnya lebih tua dari Pak Pardan, berkumis tipis. Tubuhnya sedikit kurus dari Pak Pardan, dengan lengan kendor, perut buncit dan dada yang juga kendor, namun putingnya cukup menonjol. Badannya lumayan mulus, hanya ada sedikit rambut di puting dadanya. Ia hanya mengenakan celana dalam dan terlihat bulu kemaluannya menyembul. Ia mengusap-usap celana dalamnya itu. 

"Sini pak," ajak Pak Pardan. Aku sedikit terkejut, tapi bapak tadi segera ke arah kami dan membuka celana dalamnya. Terlihat senjatanya yang besar menyembul. Tanpa ba-bi-bu ia berdiri di sampingku dan membenamkan wajahnya ke ketiak Pak Pardan. 

Dua orang penikmat pria sedang tenggelam dalam nikmatnya ketiak lebat pria paruh baya itu. Pak Pardan mendesah sambil memegang milik kami berdua. Puas dengan ketiak, aku menuju dada Pak Pardan dan menghisap putingnya, menjilati dan memainkannya dengan ujung lidahku. Pak Pardan keenakan dan menggeliat, kemaluannya sudah nongol keluar karena gairah. Sedangkan rekan di sampingku masih menikmati aroma ketiak Pak Pardan. 

"Ke kamar mandi aja. Nggak ada orang," ajak Pak Pardan.

Kami bertiga bergegas ke kamar mandi sambil melucuti celana dalam masing-masing. Benar, tidak ada orang di sini. Kami menuju shower yang hanya bertutupkan tirai plastik semi transparan. 

Sekarang ganti bapak-bapak itu yang berdiri bersandar tembok. Kami bertiga berbagi sentuhan lidah dan bibir, dengan senjata kami menjulang di bawah sana. Kami menciumi leher bapak itu. Dan Pak Pardan langsung menghisap puting bapak itu seperti bayi dengan dotnya. Aku tak mau melewatkan itu dan akhirnya melakukan hal yang sama. Desahan dan erangan menggema di dalam kamar mandi sore itu. 

Pak Pardan kembali berciuman dengan bapak tua itu, dan aku jongkok, menikmati kedua batang keras di hadapanku. Belum puas aku dengan kedua simbol maskulinitas itu, Pak Pardan menarikku dan kami pun berciuman. Pak tua melihat kami berdua dan menggerayangi tubuhku. Dijilatinya leher dan ketiakku. Kurasakan hisapan kuat di piringku sampai-sampai aku menggeliat sambil terus beradu lidah dengan Pak Pardan. Ia turun ke milikku dan menghangatkannya di dalam rongga mulutnya. 

Kami mendesah keras. Pak tua meraih milik Pak Pardan dan menjilatinya. Pak Pardan bersandar di tembok dan aku mulai lagi menjilati ketiak dan memainkan dadanya. Pak Pardan mendesah semakin keras. Menikmati hangatnya rongga mulut pak tua dan nikmatnya sensasi sentuhan di dada dan ketiaknya. Tanpa terasa desahannya memuncak dan kurasakan pinggangnya menarik ke atas.

Pak tua mengulum dan memainkan lidah di kepala penis Pak Pardan. Kenikmatan memuncak, akhirnya kenikmatan menyembur dari Pak Pardan, memenuhi wajah pak tua dengan kehangatannya. 

Pak tua berdiri dan kami bertiga berciuman. Bau anyir merebak dari bibir pak tua. Baru gairah Pak Pardan. Nikmat sekali.

Aku menggerayangi tubuh pak tua dan memainkan lidahku di putingnya. Dadanya yang kendor dan perutnya yang buncit sangat menggoda. Pak Pardan berlutut dan menikmati batang gairah si pak tua. Lalu ia mengocoknya pelan-pelan sambil tetap memberikan sentuhan kehangatan mulutnya. Si pak tua merasakan sensasi yang luar biasa karena putingnya dihisap kuat, dan dada satunya diremas dengan penuh gairah. Gesekan kumis tebal Pak Pardan di kemaluannya menambah kenikmatan yang ia rasakan.

"Ah...pak...,"desahnya.

Aku menjilati ketiak pak tua yang relatif mulus. Sambil meremas dada dan mengelus perutnya. Dan kembali memainkan putingnya. 

"Pak...ah...dikit.lagi...ah," ia siap menuntaskannya.

Pak Pardan semakin menghisap kuat penis pak tua. 

"Aaaaaah....," erangnya.

Mulut Pak Pardan dipenuhi cairan kenikmatan pak tua. Aku mencium pak tua saat Pak Pardan mendekapku dari belakang. Tercium bau anyir di leherku, dan juga dibibirku. Aku berada di antara dua pria berumur, satu bersandar di tembok dengan tubuh mulus, kendor dan penis yang menjulang, dan di belakangku ada pria berisi, penuh dengan rambut-rambut halus yang menggairahkan.

Perut pak tua licin oleh keringat kami dan juga sisa cairan kenikmatan. Di belakangku ku rasakan Pak Pardan kembali tegang, menekan sela-sela pantatku. Aku mencium pak tua dan menggesek-gesekkan milikku dengan miliknya. Tanganku memilin putingnya. Di belakang Pak Pardan menggesek miliknya di antara bagian pantatku. Tangannya memelukku, meremas dadaku. 

Aku mengangkat lengan pak tua dan menjilati ketiaknya yang mulus. Sesekali aku menggigit dan menghisapnya hingga meninggalkan bekas merah. Sementara pak tua mendesah keras dan miliknya juga kembali keras. Pak Pardan semakin menekan dan mempercepat ritme gesekan miliknya. 

"Oh...," erangnya.

"Pak Pardan...ah...," nikmat sekali gesekannya.

Pak tua berganti posisi dan aku sekarang Pak Pardan bersandar ke dinding memelukku dan menggesek-gesekkan miliknya. Aku bersandar diperlukan Pak Pardan dengan bagian depan tubuhku menghadap pak tua. Dengan cekatan pak tua mengangkat lenganku dan menjilati ketiakku. Aku mengerang. 

Ia membuka telapak tangan Pak Pardan yang meremas-remas dadaku sehingga ia bisa menjilat dan menghisap putingku. 

"Ah...aaah...," erangku semakin menjadi.

Kurasakan gesekan kemaluan di belakangku semakin cepat dan menekan semakin keras sekeras erangan kami bertiga. Pak tua menghisap putingku sambil mengelus-elus batang kenikmatanku. 

"Pak...gak kuat...ah," kenikmatan luar biasa aku rasakan sore itu.

Pak tua berlutu dan menjilati batang milikku, memukul-mukulkannya ke wajahnya. Aku semakin mendekati puncak gairah. Kurasakan tubuh hangat Pak Pardan memelukku dari belakang, gesekan kejantanannya semakin kuat, dan ia meremas dadaku semakin kuat. Ia memilin-milin kedua putingku dengan sangat nikmat dan menciumi leherku.

Batang gairahku semakin tak berdaya melawan ini semua hingga akhirnya,

"Aaaah....aaaaaah... Pak Parda....aaaah...bapak...," erangku saat mengeluarkan kehangatan gairah dari dalam tubuhku.

"Ahhh....aahh....iya...kelu...aarr...aaaah," Pak Pardan mengerang sambil tetap memilin dan meremas dadaku disertai semburan kehangatan kedua darinya memenuhi bagian belakangku. Pak tua menjilati batang kenikmatanku, sesaat kemudian ia berdiri dan berpagut denganku.

Kurasakan tubuh kami basah oleh keringat gairah. Bau anyir dan kenikmatan merebak di kamar mandi sore itu.

"Nanti main di kolam ya," ujar pak tua.

"Emang bisa pak?" Tanya Pak Pardan sambil tetap memelukku dan memegang dadaku. Kurasakan batangnya masih berdenyut.

"Bisa. Saya yang punya tempat ini," jawab pak tua dan sekaligus membuat kami sedikit leher tapi juga lega.

"Bisa...," sambungku.

"Bisa," sambung pak tua sambil kembali menciumku.





Popular posts from this blog

Romansa Di Tengah Embun Pagi

Gairah Penggali Sumur

Proyek Taman Rumah Abram